Selain membangun kesadaran diri (self-awareness), lanjut Ayoe, proses eksplorasi juga mengajarkan anak untuk menghadapi tantangan dan bangkit ketika mengalami kegagalan. Orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi anak agar tidak berhenti mencoba ketika menemui hambatan.
"Ketika anak menghadapi sandungan, kita bisa mengajaknya melihat bahwa mungkin kali ini belum berhasil, tetapi kita bisa mencoba lagi atau mencari cara yang berbeda. Di situlah anak belajar tentang growth mindset," tutur Ayoe.
Ayoe menilai, ketangguhan (resilience) dan growth mindset tidak bisa terbentuk secara instan ketika seseorang sudah beranjak dewasa. Kedua kemampuan tersebut perlu dilatih sejak usia dini melalui pengalaman nyata yang beragam.
"Tidak mungkin seseorang tiba-tiba memiliki growth mindset saat sudah dewasa. Semua itu harus dibangun sejak kecil melalui berbagai pengalaman yang mendukung anak untuk bereksplorasi," ujarnya.
Karena itu, Ayoe menekankan pentingnya peran orang tua dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung agar anak bebas mencoba berbagai hal tanpa takut gagal.
Semakin banyak pengalaman positif yang diperoleh, kata dia, semakin besar pula kesempatan anak mengenali potensi terbaiknya.
Selain dukungan emosional dari keluarga, Ayoe mengingatkan bahwa eksplorasi anak juga perlu didukung oleh faktor lain, mulai dari stimulasi yang bermakna, lingkungan yang positif, hingga asupan nutrisi yang tepat agar tumbuh kembang berlangsung optimal.
"Kombinasi nutrisi yang tepat, stimulasi yang bermakna, dukungan orang tua, dan lingkungan yang mendukung menjadi fondasi penting agar anak tumbuh percaya diri, senang belajar, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya hingga dewasa," pungkas Ayoe.
Baca Juga: Bebelac Little Star 2026 Kembali Hadir, Dorong Anak Indonesia Berani Bersinar dengan Potensinya