Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah, dan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup.
Dalam dunia psikologi, kemampuan ini dikenal dengan istilah resiliensi, yakni kesanggupan seseorang untuk bangkit dari kegagalan, kekecewaan, maupun tekanan emosional.
Baca Juga: 76% Orang Tua Sadari Anak Neurodivergent, Tapi Kenapa Bingung dan Stres?
Kabar baiknya, mental tangguh bukanlah bakat bawaan lahir, melainkan sesuatu yang bisa dibentuk dan diasah sejak usia dini melalui kebiasaan sehari-hari, terutama lewat pola asuh dan contoh yang diberikan orang tua.
Berikut lima kebiasaan orang tua yang dapat membantu membentuk mental tangguh pada anak.
1. Mengakui dan Menghargai Perasaan Anak
Banyak orang tua beranggapan bahwa sikap tegas demi kebaikan anak secara otomatis akan membuat mereka tumbuh tangguh. Padahal, langkah pertama membangun ketangguhan mental justru dimulai dari mengakui dan menghargai perasaan anak, bukan menekan atau mengabaikannya.
Ajak anak membicarakan apa yang mereka rasakan, baik saat marah, sedih, maupun takut, agar mereka belajar mengenali dan menerima emosinya dengan sehat, bukan memendamnya sendirian.
2. Fokus pada Usaha, Bukan Hanya Hasil
Alih-alih hanya memuji hasil akhir, orang tua yang terbiasa mengapresiasi usaha dan proses yang dilalui anak secara diam-diam menumbuhkan pola pikir berkembang atau growth mindset.
Dengan pola pikir ini, anak akan memandang tantangan sebagai kesempatan untuk belajar, bukan sebagai ancaman yang harus dihindari, sehingga mereka lebih siap menghadapi kegagalan di kemudian hari.
Baca Juga: Dokter Ungkap 2 Makanan yang Dianggap Sehat untuk Anak tapi Perlu Dibatasi, Apa Saja?
3. Memberi Ruang untuk Gagal dan Bangkit Sendiri
Profesor pediatri dari Children's Hospital of Philadelphia, Dr. Ken Ginsburg, mengingatkan bahwa kebiasaan orang tua yang terlalu cepat turun tangan saat anak menghadapi kesulitan justru dapat menghambat pertumbuhan mental mereka.
"Tugas orang tua adalah melindungi anak-anak dan membiarkan mereka belajar dari kegagalan. Salah satu cara mempersiapkan anak menghadapi kesulitan adalah dengan membiarkan mereka sesekali jatuh dan bangkit kembali," ujar Ginsburg.
Memberi anak kesempatan mencoba sendiri sebelum buru-buru membantu akan melatih mereka menganalisis kesalahan dan mencari solusi secara mandiri.
4. Memberi Tanggung Jawab Kecil Sehari-hari
Melibatkan anak dalam tanggung jawab kecil, seperti merapikan tempat tidur sendiri atau menyiram tanaman setiap pagi, dapat membuat mereka merasa dipercaya.
Rasa dipercaya inilah yang lambat laun tumbuh menjadi kepercayaan diri, salah satu pilar penting dalam membangun mental yang tangguh. Kebiasaan sederhana ini juga mengajarkan anak arti konsistensi dan komitmen sejak dini.
5. Menjadi Teladan Langsung, Bukan Sekadar Memberi Perintah
Anak adalah peniru ulung bagi orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua. Orang tua yang pekerja keras, jarang mengeluh, dan tetap bersemangat menjalani hari-harinya cenderung menurunkan sifat serupa kepada anak.
Penelitian dalam jurnal Developmental Psychology turut menunjukkan bahwa contoh perilaku orang tua secara signifikan membentuk cara anak mengatur emosinya sendiri.
Psikolog klinis Dr. Joseph Laino menambahkan, "Orang dewasa yang mencontohkan perilaku yang tepat juga bisa menjadi strategi yang efektif dalam membentuk mental tangguh seorang anak."
Menunjukkan cara menghadapi rasa lelah atau kekecewaan secara sehat di depan anak, alih-alih menyembunyikannya, justru mengajarkan mereka keterampilan resiliensi yang nyata.
Penting diingat, membangun mental tangguh pada anak bukanlah proses yang bisa dicapai secara instan. Dibutuhkan konsistensi dan kesabaran dari orang tua dalam menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut secara berkelanjutan.
Resiliensi juga bukan berarti membiarkan anak berjuang sendirian tanpa dukungan, melainkan mencari keseimbangan antara memberi ruang belajar dan tetap hadir sebagai tempat aman bagi anak untuk kembali.