Batu bara masih menjadi salah satu persoalan besar dalam agenda transisi energi. Di balik pemanfaatannya sebagai sumber energi, industri batu bara menyimpan sederet persoalan, mulai dari konflik lahan, kerusakan lingkungan, hingga risiko ekonomi yang dapat merugikan lembaga keuangan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyoroti masih adanya pembiayaan terhadap proyek-proyek yang menggunakan batu bara, termasuk oleh lembaga keuangan internasional. Salah satu yang disorot adalah pembiayaan kawasan industri berlabel hijau yang masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) captive berbasis batu bara.
Sebagaimana dikutip Olenka dari akun Instagram pribadi Bhima Yudhistira, @bhimayudhistira, Kamis (5/11/2026), Bhima menyebut, persoalan pembiayaan batu bara menjadi salah satu isu yang banyak dibicarakan dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok.
Ia menyinggung keterlibatan lembaga keuangan dalam pendanaan proyek-proyek yang masih menggunakan batu bara, termasuk International Finance Corporation (IFC), anggota Grup Bank Dunia, yang menurutnya masih terindikasi membiayai kawasan industri berlabel hijau meski tetap mengandalkan energi fosil tersebut.
“International Finance Corporation itu masih terindikasi membiayai kawasan industri, labelnya hijau, tapi masih menggunakan batu bara,” tukan Bhima.
Menurut Bhima, dampak industri batu bara tidak hanya berkaitan dengan persoalan emisi, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan dan kawasan industri. Konflik bahkan dapat muncul sejak tahap pembukaan lahan hingga aktivitas pertambangan berlangsung.
“Nah, korbannya berapa? Korbannya itu udah banyak banget. Jadi mulai dari lubang tambangnya, sampai pada saat persiapan lahan, itu konflik semua isinya,” katanya.
Bhima juga mengkritik pandangan yang menganggap sumber daya batu bara seolah-olah dapat dimanfaatkan tanpa memperhitungkan dampak sosial dan ekologisnya. Padahal, menurut dia, ketergantungan terhadap batu bara turut memperbesar ancaman bencana lingkungan.
“Banyak sekali ditemukan, batu bara itu dianggap barang Tuhan dibagi rata. Padahal batu bara ini adalah sumber karutla, sumber bencana, sumber kekeringan, tapi masih dipertahankan,” tutur Bhima.