Dr. Mustari mencontohkan kasus banteng di Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Salah satu faktor yang disebut berkontribusi terhadap kepunahan lokal banteng di kawasan tersebut adalah erupsi Gunung Galunggung pada 1982 yang menyebabkan padang rumput, sebagai salah satu sumber pakan banteng, tertutup material vulkanik.
Meski demikian, tidak semua satwa akan terdampak dengan cara yang sama. Sebagian satwa masih memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri dengan berpindah menuju habitat yang kondisinya lebih aman. Karena itu, kawasan hutan yang tidak terdampak erupsi perlu dipertahankan sebagai habitat sementara sekaligus tempat berlindung bagi satwa yang melakukan perpindahan.
Keberadaan koridor ekologis juga menjadi penting untuk mendukung pergerakan satwa. Hutan riparian dan kawasan di sekitar sumber air, misalnya, dapat menjadi jalur yang membantu satwa berpindah dari wilayah terdampak menuju habitat yang lebih aman.
Namun, perpindahan satwa tersebut juga dapat membawa konsekuensi bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Satwa yang keluar dari habitat alaminya berpotensi masuk ke area permukiman sehingga meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar.
“Masyarakat perlu waspada terhadap kemungkinan keluarnya satwa dari kawasan hutan ke permukiman yang dapat memicu konflik manusia dan satwa liar,” jelasnya.
Di sisi lain, ekosistem memiliki kemampuan untuk melakukan pemulihan secara alami setelah erupsi. Proses tersebut berlangsung secara bertahap, dimulai dari tumbuhnya organisme pionir seperti lumut, kemudian rumput dan semak belukar, hingga perlahan terbentuk hutan sekunder yang mampu mendukung kehidupan satwa dengan lebih beragam.
Menurut Dr. Mustari, proses pemulihan ekosistem tersebut tidak berlangsung dalam waktu singkat. Dibutuhkan waktu sekitar 25–30 tahun hingga kawasan terdampak mampu kembali mendukung komunitas satwa yang lebih beragam.
Dengan demikian, dampak erupsi terhadap satwa liar tidak berhenti ketika aktivitas vulkanik mereda. Perubahan habitat, hilangnya sumber pakan dan air, perpindahan satwa, hingga potensi konflik dengan manusia dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Upaya mempertahankan habitat yang masih aman dan memastikan tersedianya koridor ekologis menjadi bagian penting dalam membantu satwa bertahan sekaligus mempercepat pemulihan ekosistem pascaerupsi.
Baca Juga: Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau bagi Ekosistem Laut, Pakar IPB Ungkap Faktanya