Erupsi gunung berapi tidak hanya menjadi ancaman bagi keselamatan manusia, tetapi juga dapat memberikan tekanan besar terhadap satwa liar dan keseimbangan ekosistem. Aliran lahar panas, abu vulkanik, hingga rusaknya sumber pakan dan air dapat mengganggu kehidupan berbagai spesies, terutama satwa yang berada di kawasan konservasi sekitar gunung api.
Pakar satwa liar sekaligus dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Dr. Abdul Haris Mustari, menjelaskan bahwa erupsi merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihindari dan dapat memberikan dampak langsung terhadap berbagai komponen ekosistem.
“Saat erupsi terjadi, banyak satwa yang mati terkena langsung lahar panas dan debu vulkanik yang menyebabkan populasi menurun signifikan,” terang Dr. Mustari, sebagaimana dikutip Olenka dari laman IPB University, Selasa (15/9/2026).
Dampak tersebut juga berpotensi menjangkau kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai jenis satwa liar. Sejumlah kawasan yang dapat terdampak antara lain Taman Nasional Ujung Kulon, Cagar Alam Gunung Krakatau, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas, serta kawasan hutan konservasi di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan.
Tidak hanya menyebabkan kematian secara langsung, abu vulkanik juga dapat mengubah kondisi habitat. Material vulkanik yang menutupi rumput, dedaunan, dan buah-buahan dapat mengurangi ketersediaan sumber pakan bagi satwa. Pada saat yang sama, sungai, danau, rawa, maupun mata air dapat ikut terdampak oleh endapan abu vulkanik sehingga mengganggu akses satwa terhadap sumber air.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan tekanan ekologis pada berbagai kelompok satwa, mulai dari herbivor, karnivor, omnivor, hingga serangga. Satwa langka dan dilindungi seperti banteng, badak jawa, badak sumatra, tapir, harimau sumatra, macan tutul, owa jawa, dan lutung jawa termasuk spesies yang berpotensi menghadapi dampak dari perubahan kondisi habitat tersebut.
Gangguan terhadap satu kelompok satwa juga dapat merambat ke kelompok lainnya. Penurunan populasi herbivor, misalnya, dapat berdampak pada satwa karnivor karena berkurangnya sumber pakan seperti rusa, kijang, sambar, dan babi hutan.
Baca Juga: Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bagi Kesehatan, Ini Kata Dokter
Dr. Mustari mencontohkan kasus banteng di Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Salah satu faktor yang disebut berkontribusi terhadap kepunahan lokal banteng di kawasan tersebut adalah erupsi Gunung Galunggung pada 1982 yang menyebabkan padang rumput, sebagai salah satu sumber pakan banteng, tertutup material vulkanik.
Meski demikian, tidak semua satwa akan terdampak dengan cara yang sama. Sebagian satwa masih memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri dengan berpindah menuju habitat yang kondisinya lebih aman. Karena itu, kawasan hutan yang tidak terdampak erupsi perlu dipertahankan sebagai habitat sementara sekaligus tempat berlindung bagi satwa yang melakukan perpindahan.
Keberadaan koridor ekologis juga menjadi penting untuk mendukung pergerakan satwa. Hutan riparian dan kawasan di sekitar sumber air, misalnya, dapat menjadi jalur yang membantu satwa berpindah dari wilayah terdampak menuju habitat yang lebih aman.
Namun, perpindahan satwa tersebut juga dapat membawa konsekuensi bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Satwa yang keluar dari habitat alaminya berpotensi masuk ke area permukiman sehingga meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar.
“Masyarakat perlu waspada terhadap kemungkinan keluarnya satwa dari kawasan hutan ke permukiman yang dapat memicu konflik manusia dan satwa liar,” jelasnya.
Di sisi lain, ekosistem memiliki kemampuan untuk melakukan pemulihan secara alami setelah erupsi. Proses tersebut berlangsung secara bertahap, dimulai dari tumbuhnya organisme pionir seperti lumut, kemudian rumput dan semak belukar, hingga perlahan terbentuk hutan sekunder yang mampu mendukung kehidupan satwa dengan lebih beragam.
Menurut Dr. Mustari, proses pemulihan ekosistem tersebut tidak berlangsung dalam waktu singkat. Dibutuhkan waktu sekitar 25–30 tahun hingga kawasan terdampak mampu kembali mendukung komunitas satwa yang lebih beragam.
Dengan demikian, dampak erupsi terhadap satwa liar tidak berhenti ketika aktivitas vulkanik mereda. Perubahan habitat, hilangnya sumber pakan dan air, perpindahan satwa, hingga potensi konflik dengan manusia dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Upaya mempertahankan habitat yang masih aman dan memastikan tersedianya koridor ekologis menjadi bagian penting dalam membantu satwa bertahan sekaligus mempercepat pemulihan ekosistem pascaerupsi.
Baca Juga: Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau bagi Ekosistem Laut, Pakar IPB Ungkap Faktanya