Karena itu, pilihan antara buah mengkal dan matang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Menurut Prof. Antonius, buah yang masih mengkal bisa menjadi pilihan bagi orang yang perlu membatasi asupan gula karena kandungan fruktosanya cenderung lebih rendah. Meski begitu, buah mengkal tetap mengandung mineral, vitamin, dan serat yang bermanfaat bagi tubuh.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa jumlah buah yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Tingkat kematangan bukan satu-satunya faktor yang menentukan seberapa banyak gula yang masuk ke dalam tubuh.
“Kalau makan buah yang masak tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak, mungkin masih oke dibandingkan makan buah yang setengah matang, tetapi jumlahnya banyak,” jelasnya.
Prof. Antonius menambahkan, baik buah mengkal maupun buah matang tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat selama dikonsumsi secara bijak. Ia juga menyarankan agar buah dikonsumsi dalam bentuk utuh, bukan sekadar diambil sarinya, sehingga kandungan serat alaminya tetap terjaga.
Menurutnya, serat alami memiliki peran penting karena menjadi makanan bagi bakteri baik yang hidup di usus besar.
Bakteri tersebut tidak hanya membantu mendukung sistem imun, tetapi juga menghasilkan berbagai senyawa, termasuk vitamin dan hormon, yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesehatan mental.
“Kalau konsumsi buah, sebaiknya buah yang utuh karena buah utuh mengandung serat. Dua-duanya, baik buah mengkal maupun matang, tetap jauh lebih baik daripada ngemil junk food,” pungkasnya.
Baca Juga: 6 Jenis Buah-buahan yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi di Malam Hari, Efeknya Gak Main-main!