Sementara itu, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menjelaskan bahwa transformasi ini merupakan bagian dari perjalanan panjang perbaikan proses kredit BTN yang terus berevolusi mengikuti perkembangan teknologi.
"Dari proses yang sebelumnya terdesentralisasi, kemudian regionalisasi, hingga kini menjadi terpusat berbasis proses, kami memastikan kualitas proses terus meningkat dengan standar yang lebih konsisten," ujar Setiyo.
Baca Juga: Sinergi Strategis BTN dan LPEI Dorong Pertumbuhan Ekspor Indonesia
Ia menambahkan, Loan Factory memungkinkan BTN memperoleh economic of scale sekaligus memperkuat kualitas proses melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan berbasis teknologi.
"Dengan pendekatan ini, kami mendorong proses yang lebih akurat, efektif, dan cepat, sekaligus memperkuat pengendalian untuk meminimalkan risiko," jelasnya.
Selain itu, BTN terus memperkuat kapabilitas digital melalui pemanfaatan teknologi, termasuk pengembangan otomasi dan kecerdasan buatan (AI) pada proses input, verifikasi, dan analisis data kredit.
Transformasi Loan Factory menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi operasional BTN untuk mendukung peningkatan kapasitas penyaluran kredit secara nasional seiring dengan kebutuhan pembiayaan perumahan yang terus tumbuh.
"Target kita jelas, pertumbuhan harus meningkat, tapi kualitas juga harus tetap terjaga. Itu yang sedang kita bangun melalui Loan Factory ini," tutup Nixon.