Tren fesyen pria urban di Indonesia semakin beragam. Di tengah dominasi gaya kasual dan streetwear, hadir brand menswear lokal yang menawarkan pendekatan berbeda dengan membawa estetika Jepang ke dalam busana sehari-hari.

Yukito, brand lokal yang mengusung konsep 'Japanese inspired, locally produced', menghadirkan pakaian oversize yang terinspirasi dari siluet Yukata dan Kimono, tetapi dirancang agar tetap nyaman digunakan di iklim tropis Indonesia.

Hadir sejak Oktober 2024, Yukito menyasar pria urban dan modern yang menginginkan pakaian dengan karakter minimalis, nyaman, sekaligus memiliki sentuhan gaya Jepang. Salah satu ciri utamanya adalah penggunaan material cotton-linen blend yang diproduksi secara lokal dan dikenal ringan, lembut, serta lebih nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Dalam waktu sekitar satu setengah tahun sejak pertama kali hadir, Yukito mengklaim telah mencatat penjualan ribuan produk dengan pertumbuhan positif mencapai 120 persen. Produk-produknya juga telah menjangkau konsumen di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Founder Yukito, Dave Ependi, mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bagi brand yang masih tergolong baru di industri fesyen Tanah Air.

“Dalam 1,5 tahun, Yukito sudah menjual ribuan produk dengan pertumbuhan positif sebesar 120% dari awal hadir di Indonesia, khususnya melalui penjualan offline. Para pembeli kami pun tersebar di beberapa provinsi di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Bagi brand UMKM yang terbilang baru, pencapaian ini memberikan semangat bagi kami dalam menjawab kebutuhan mode masyarakat Indonesia berikutnya,” jelas Dave, dalam keterangan resminya, dikutip Senin (10/8/2026).

Dave memaparkan, identitas Yukito berangkat dari upaya menerjemahkan estetika pakaian tradisional Jepang ke dalam busana modern yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Siluet oversize yang terinspirasi dari Kimono dan Yukata menjadi salah satu elemen utama yang kemudian dipadukan dengan pendekatan minimalis.

Konsep tersebut diterapkan melalui empat koleksi yang masing-masing memiliki karakter berbeda, yakni Kihon yang berarti dasar, Haru no Kaze atau angin musim semi, Kage yang berarti bayangan, serta koleksi terbaru Sen yang berarti garis.

Keempat koleksi tersebut tetap mempertahankan DNA desain Yukito melalui aksentuasi oversize. Salah satu detail yang menjadi ciri khas adalah penggunaan drop-shoulder pada kemeja atau atasan yang memberikan siluet lebih dramatis tanpa menghilangkan kesan kasual.

Yukito juga memiliki signature berupa kemeja berlengan tiga perempat dengan model big cuff yang dilengkapi dua kancing. Detail tersebut menjadi salah satu elemen pembeda yang memperkuat karakter visual brand.

Meski mengadopsi inspirasi dari Jepang, Yukito tidak sekadar menghadirkan pakaian dengan tampilan serupa. Brand ini berupaya menyesuaikan desain dan materialnya dengan kebutuhan konsumen Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di wilayah beriklim tropis.

Karena itu, penggunaan cotton-linen blend menjadi bagian penting dari konsep Yukito. Material tersebut digunakan pada kemeja dan atasan, sementara celana serta vest menggunakan cotton-twill.

Baca Juga: Benang Jarum Hadirkan Viola Collection di Fashion Nation XIX