Brand lokal Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh, baik di pasar domestik maupun global. Namun, tantangan yang masih dihadapi pelaku usaha lokal adalah bagaimana memperluas eksposur dan mempertemukan produk mereka secara langsung dengan konsumen.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan sejumlah brand lokal menyambut positif kehadiran IRRESS LOCAL, ruang khusus yang dihadirkan IRRESISTIBLE BAZAAR untuk mempertemukan brand lokal terkurasi dengan audiens yang lebih luas.
IRRESS LOCAL akan hadir dalam IRRESISTIBLE BAZAAR di Kota Kasablanka pada 26–30 Agustus 2026. Lebih dari 50 tenant akan berpartisipasi dalam gelaran tersebut, dengan lebih dari 10% di antaranya merupakan brand fashion lokal yang untuk pertama kalinya ditempatkan dalam satu area khusus IRRESS LOCAL.
Baca Juga: IRRESISTIBLE BAZAAR Berikan Ruang Lebih bagi Brand Lokal Berkualitas melalui IRRESS LOCAL
Sejumlah brand yang akan berpartisipasi di antaranya BAZIA, SROJA, HAIDEE & ORLIN, DIBBA OFFICIAL, COTTON INK, MKS SHOES, DAMBHA OFFICIAL, WOU BATIK BY LENY RAFAEL, ROLLAND STUDIO EYEWEAR, serta SAMADENGAN THE LABELS.
Founder IRRESISTIBLE BAZAAR sekaligus Owner Ginger Luxthings dan DAMBHA OFFICIAL, Marisa Tumbuan, Marisa Tumbuan, mengatakan semakin banyaknya brand lokal berkualitas yang muncul menunjukkan bahwa industri fashion Indonesia memiliki potensi yang sangat besar.
“Sekarang local brand itu keren banget. Keren-keren banget dengan kualitas yang nggak kalah, dan dengan kreativitas yang menurut saya idenya lebih bagus,” ujar Marisa dalam Media Gathering IRRESS LOCAL di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, kreativitas menjadi salah satu kekuatan utama fashion Indonesia. Ia bahkan menilai produk fashion lokal memiliki keunggulan dibandingkan produk dari sejumlah negara tetangga.
Baca Juga: IFA Archipelago Perluas Ekosistem Fashion dan Kecantikan ke Daerah, Banjarbaru Jadi Kota Perdana
“Kalau fashion, menurut saya fashion Indonesia dibandingkan fashion negara tetangga itu lebih bagus dan lebih kreatif. Kreativitasnya itu kayak wah, nggak sangka gitu,” katanya.
Karena itu, Marisa menilai brand lokal perlu mendapatkan ruang yang lebih besar untuk dikenal masyarakat. Salah satunya melalui pengalaman offline yang memungkinkan konsumen melihat sekaligus mencoba produk secara langsung.
Salah satu brand yang memanfaatkan kesempatan tersebut adalah Rolland Studio Eyewear. Brand kacamata yang baru berdiri sekitar lima bulan itu didirikan Adhitya, Owner sekaligus Founder Rolland Studio Eyewear, yang sebelumnya dikenal sebagai kreator konten di media sosial dengan lebih dari 5 juta pengikut di TikTok.
Adhitya mengungkapkan ide membangun Rolland Studio Eyewear muncul karena dirinya kerap menggunakan kacamata dalam konten. Banyak audiens yang kemudian mengaitkan dirinya dengan produk kacamata yang digunakan hingga akhirnya muncul keinginan untuk membangun brand sendiri.
Baca Juga: PURANA Rayakan 17 Tahun lewat Renjana Perca, Dorong Ekonomi Sirkular dan Sustainable Fashion
“Dari situ aku mulai kayak, bagaimana kalau misalkan aku start to build my brand sendiri,” ujarnya.
Rolland Studio Eyewear kemudian dikembangkan dengan desain yang dapat digunakan oleh berbagai gender dan menyesuaikan dengan beragam bentuk wajah. Koleksinya juga mengikuti tren fashion, termasuk gaya Y2K.
Menurutnya, pengalaman konsumen memegang dan mencoba produk secara langsung menjadi salah satu alasan penting bagi brand lokal untuk hadir di ruang offline.
“Brand awareness biasanya orang tuh lebih dapat sensenya, lebih dapat rasanya kalau nyobain brand-nya secara langsung,” katanya.
Brand lain yang turut melihat peluang tersebut adalah Haidee & Orlin. Brand modest fashion yang telah berdiri sejak 2015 ini mengusung karakter casual dan chic dengan detail sebagai salah satu ciri khas produknya.
Owner Haidee & Orlin, Meity Savitri, mengatakan brand-nya juga memiliki komunitas melalui Haidee & Orlin Club yang dibentuk sekitar satu tahun lalu. Komunitas tersebut menjadi salah satu kekuatan yang ingin terus dikembangkan bersama pertumbuhan brand.
“IRRESISTIBLE BAZAAR punya komunitas yang benar-benar kuat. Waktu Kak Marissa menawarkan aku untuk bergabung di IRRESS LOCAL, aku nggak mikir dua kali,” ujar Meity.
Menurutnya, kolaborasi dengan ekosistem yang telah memiliki audiens kuat dapat membantu konsumen IRRESISTIBLE BAZAAR mengenal lebih dekat produk lokal.
Sementara itu, Leny Rafael dari WOU Batik menilai kesempatan untuk tampil secara offline sangat penting bagi brand yang selama ini banyak mengandalkan kanal digital.
WOU Batik telah berdiri selama sekitar 10 tahun dan memiliki basis produksi di Solo. Leny yang telah berkecimpung di industri fashion selama 25 tahun mengatakan kehadiran IRRESS LOCAL dapat membantu brand lokal memperluas jangkauan sekaligus bertemu langsung dengan calon konsumen.
“Kalau kita tidak ada event-event seperti ini, local brand bagaimana bisa kelihatan. In this economy kita harus saling berkolaborasi, saling support satu sama lain untuk memajukan local brand di Indonesia, dan pasti goal kita adalah local brand to global,” kata Leny.
Bagi WOU Batik, keikutsertaan dalam IRRESS LOCAL juga menjadi kesempatan untuk membawa produk yang selama ini lebih banyak dipasarkan secara online ke ruang offline.
“Market kita sebenarnya di online. Untuk bisa orang datang lihat langsung, beli, itu penting. Selama ini kan hanya di marketplace,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan DIBBA Official yang melihat IRRESS LOCAL sebagai peluang untuk memperkenalkan lini leather goods mereka kepada konsumen secara langsung.
Studio Manager DIBBA Official, Arief, mengatakan brand tersebut saat ini tidak memiliki toko offline sehingga kesempatan bertemu konsumen secara langsung menjadi sangat berarti.
“Kalau produknya baru rilis, seperti posting sekali juga pasti kelewat. Belum tentu ada yang melihat. Jadi di IRRESISTIBLE BAZAAR kita ingin membawakan produk leather goods kami. Full lokal, semuanya dibuat di Indonesia,” kata Arief.
DIBBA Official sendiri telah mengembangkan lini ready to wear dan leather goods dengan karakter desain yang lebih eksperimental. Produk leather goods yang akan dibawa ke IRRESS LOCAL memiliki kisaran harga Rp2,1 juta hingga Rp3,2 juta.
Selain itu, ada pula Samadengan The Labels yang melihat IRRESS LOCAL sebagai momentum untuk memperkenalkan brand kepada audiens yang lebih luas. Brand yang dibangun oleh dua sahabat sejak masa SMA tersebut telah berjalan hampir lima tahun.
Bagi para pelaku brand lokal, kehadiran ruang khusus seperti IRRESS LOCAL bukan hanya soal penjualan, tetapi juga kesempatan membangun brand awareness, memperluas jaringan, dan memperkenalkan karya kepada konsumen baru.
Semangat tersebut sejalan dengan harapan Marisa agar brand lokal Indonesia semakin percaya diri untuk tampil dan berkembang.
“Saya memang lebih concern mengenai local brand. Saya yakin dengan adanya media, support dari media, IRRESS LOCAL, local brand yang ada di dalam IRRESISTIBLE BAZAAR juga bisa terjual lancar,” ujar Marisa.
Dengan mempertemukan berbagai brand lokal dalam satu area, IRRESS LOCAL diharapkan menjadi ruang bagi konsumen untuk lebih mudah menemukan, mengeksplorasi, dan mendukung produk fashion karya Indonesia.