Loyalis presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) Dede Budhyarto tampak kesal dengan seluruh partai politik pendukung Prabowo-Gibran yang memilih diam atas perkara yang menimpa Gibran sekarang ini.
Partai pendukung kata Dede seharusnya pasang badan membela Gibran yang sedang diobok-obok isu ijazah SMA/SLTA yang dipersoalkan pakar hukum tata negara Denny Indrayana Cs.
Eks Komisaris PT Pelni itu mengatakan, sejak kasus ini mengemuka ini mengatakan tak ada satu pun partai pendukung yang berani memberi pembelaan, padahal di Pilpres 2024 lalu mereka rela melakukan apa pun untuk Gibran.
"Dulu butuh panggung, butuh legitimasi, butuh dukungan all-out dari bapaknya," kata Dede dilansir akun X pribadinya Sabtu (26/9/2026).
Meski begitu Dede sadar betul bahwa di dalam politik hal-hal ini seperti ini jamak terjadi, bahkan pengkhianatan sudah dianggap barang biasa, itu lazim dan kerap terjadi. Ketika kekuasaan sudah di tangan para aktor politik termasuk partai politik sendiri ogah main di pinggir jurang, semuanya mau main aman.
"Sekarang sudah duduk manis, kekuasaan sudah sah, kursi sudah hangat. Isu ijazah wapres digoyang, semuanya tetiba bisu, semuanya diam seolah olah kerjasama dgn bantet Cs. Prinsip hnya dipakai saat masih butuh, setelah dapat, yg tinggal hnya diam & menikmati," ujarnya.
"Satu per satu menunduk bak kucing aer, tidak ada yg berani buka suara. Bukan karena tidak tahu, tapi karena takut posisi & jatah kekuasaan ikut goyah,” ucapnya.
Dede juga secara terbuka mempertanyakan keberadaan dan sikap para ketua partai politik yang sebelumnya menjadi bagian dari barisan pendukung Prabowo-Gibran.
"Wahai para Ketua partai pengusung kemana wajah kalian….hahhh?,” pungkasnya.
Adapun partai politik pendukung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM).
KIM terdiri dari 10 partai politik, yakni empat partai politik parlemen, yaitu Partai Gerindra, Partai Golkar, PAN, dan Partai Demokrat; empat partai nonparlemen, yaitu PBB, Partai Gelora Indonesia, PSI, dan Partai Garuda; satu partai lokal, yaitu Partai Aceh; serta satu partai nonpartisipan Pemilu 2024, yaitu PRIMA.