Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) menyelenggarakan Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 di Kabupaten Luwu Timur diikuti 149 pekebun sawit. Penyelenggaraan itu sebagai komitmen untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat.

Pasalnya, peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat tidak lagi cukup mengandalkan pengalaman turun-temurun. Pekebun perlu menguasai teknologi dan inovasi budidaya yang mudah diterapkan di lapangan agar mampu meningkatkan hasil panen, menekan biaya produksi, sekaligus memenuhi tuntutan perkebunan berkelanjutan.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan perkembangan teknologi di sektor perkebunan menuntut pekebun terus belajar dan mampu beradaptasi agar tidak tertinggal.

Baca Juga: BPDP Perluas Akses UMKM Perkebunan Naik Kelas Lewat Info Franchise & Business Expo 2026

Menurutnya, pelatihan menjadi media transfer teknologi dari kalangan akademisi kepada pekebun sehingga berbagai inovasi budidaya dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat.

"Perkembangan teknologi menuntut petani terus belajar dan beradaptasi. Petani masa depan bukan hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga memahami teknologi, mencatat usahanya dengan baik, dan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan," ujarnya saat membuka pelatihan di Makassar, pada Selasa (7/7/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga dibekali berbagai inovasi budidaya yang aplikatif sesuai kebutuhan di lapangan. Materi mencakup penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penggunaan benih bersertifikat, manajemen pemupukan yang tepat, pemeliharaan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman melalui prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), hingga pengelolaan kesuburan tanah.

Selain itu, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan limbah kelapa sawit seperti pelepah dan tandan kosong sebagai bahan organik untuk memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Inovasi sederhana tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi tanpa mengurangi produktivitas kebun.

Baca Juga: BPDP, Ditjenbun, dan DGL Learning Institute Latih 90 Pekebun Sawit Bengkulu Selatan Praktik Langsung Budidaya Sawit

Pelatihan juga mengenalkan teknologi budidaya melalui pemanfaatan serangga penyerbuk alami serta teknik hand pollination untuk meningkatkan keberhasilan pembentukan buah (fruit set). Penguasaan teknik ini diharapkan mampu mengurangi terbentuknya buah landak maupun buah gagal sehingga produksi tandan buah segar (TBS) meningkat.

Dengan demikian, Idum menegaskan bahwa transfer teknologi kepada pekebun merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat berkelanjutan bagi usaha perkebunan rakyat.

"Investasi terbaik bukan semata membeli pupuk atau alat panen, melainkan memperkuat pengetahuan dan keterampilan. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan akan terus memberikan manfaat dalam pengelolaan kebun maupun peningkatan kesejahteraan keluarga petani," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, menilai pelatihan menjadi sarana penting untuk mempercepat adopsi teknologi di tingkat pekebun, terutama dalam penggunaan benih unggul dan penerapan manajemen kebun yang lebih modern.

Menurutnya, masih banyak pekebun yang perlu didorong agar meninggalkan praktik budidaya lama yang kurang produktif dan mulai menerapkan teknologi yang telah terbukti meningkatkan hasil panen.

Baca Juga: BPDP, Ditjenbun, dan DGL Learning Institute Tingkatkan Kompetensi 150 Pekebun Sawit di Bengkulu Selatan

"Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran petani untuk menggunakan bibit unggul, bukan lagi memanfaatkan biji-biji yang dipungut dari sekitar kebun sebagai bahan tanam," ujarnya.

Nurul menjelaskan, penggunaan bibit unggul yang dipadukan dengan penerapan teknologi budidaya yang benar akan berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas, kualitas tandan buah segar, hingga rendemen minyak yang menjadi salah satu faktor penentu harga pembelian oleh pabrik kelapa sawit.

Ia berharap semakin banyak pekebun memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan sehingga proses transfer teknologi dapat menjangkau lebih banyak sentra perkebunan sawit rakyat di Sulawesi Selatan.

Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan 2026, BPDP, Ditjenbun, dan AKPY tidak hanya meningkatkan kompetensi pekebun, tetapi juga mempercepat penyebarluasan inovasi budidaya yang praktis, efisien, dan mudah diterapkan. Dengan semakin luasnya adopsi teknologi di tingkat pekebun, produktivitas kebun rakyat diharapkan meningkat, kualitas hasil panen semakin baik, serta daya saing sawit Indonesia terus menguat.