Materi yang disajikan mencakup berbagai isu penting, mulai dari memahami potensi fabrikasi informasi atau AI hallucination, menjaga privasi data pribadi, mengenali kemungkinan bias dalam hasil AI, hingga membangun kebiasaan digital yang sehat untuk menjaga kesehatan mental di era kecerdasan buatan.
Peluncuran toolkit ini juga diisi dengan diskusi panel bertajuk ‘Mengajar di Era AI’ yang menghadirkan perwakilan dari Kemdikdasmen, Microsoft Indonesia, dan Save the Children Indonesia.
Diskusi tersebut mengulas berbagai peluang sekaligus tantangan dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran.
Director of Program Development and Impact Save the Children Indonesia, Ratri Sutarto, menekankan pentingnya membangun literasi AI secara menyeluruh sejak dini.
"Anak-anak merupakan kelompok yang tumbuh bersama teknologi AI. Karena itu, literasi AI perlu dibangun tidak hanya dari sisi keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga dari kemampuan memahami risikonya, menjaga keamanan digital, serta tetap mengedepankan empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Kolaborasi seperti ini menjadi langkah penting agar AI benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara positif," katanya.
Selain diskusi panel, sekitar 70 guru dari berbagai sekolah di Indonesia juga mengikuti workshop bertajuk ‘AI di Ruang Kelas’. Melalui sesi ini, para peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai cara memanfaatkan AI sebagai pendukung pembelajaran yang efektif sekaligus aman.
Menutup rangkaian acara, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemdikdasmen, Dr. Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi transformasi pendidikan di era digital.
"Transformasi pendidikan di era digital memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia industri, dan masyarakat. Kami mengapresiasi inisiatif Microsoft bersama Biji-biji Initiative dan Mereka dalam menghadirkan Microsoft AI Classroom Toolkit sebagai sumber belajar yang membantu guru memahami sekaligus mengajarkan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Harapannya, semakin banyak pendidik Indonesia yang mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkaya proses pembelajaran tanpa mengesampingkan aspek etika, keamanan, dan karakter peserta didik," tutupnya.