Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), muncul fenomena menarik dari Generasi Z. Kelompok yang dikenal paling dekat dengan teknologi digital ini ternyata mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak AI, meski menjadi salah satu pengguna teknologi tersebut paling aktif.
Hasil survei terbaru dari Pew Research Center yang dikutip Olenka pada Senin (22/06/2026), mengungkapkan adanya kesenjangan antara tingginya penggunaan AI dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap teknologi tersebut. Banyak orang mulai memanfaatkan chatbot AI seperti ChatGPT dalam kehidupan sehari-hari, namun sebagian lainnya mulai mempertanyakan dampak jangka panjang dari perkembangan teknologi ini.
Survei tersebut mencatat, sebanyak 49% orang dewasa di Amerika Serikat mengaku pernah menggunakan chatbot AI. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 33%.
Baca Juga: Mengenal Aturan 50-30-20, Metode Sederhana Mengelola Uang dan Menabung
Dari pengguna chatbot AI tersebut, sekitar seperempatnya bahkan mengaku menggunakan teknologi tersebut setiap hari. Namun, peningkatan adopsi AI tidak sepenuhnya membuat publik semakin optimistis.
Hanya 16% responden yang menilai AI akan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Sebaliknya, 40% responden memperkirakan AI akan membawa dampak negatif bagi masyarakat, sementara 31% merasa teknologi tersebut dapat memberikan pengaruh buruk bagi kehidupan pribadi mereka.
Gen Z Jadi Pengguna AI Terbanyak
Menariknya, Generasi Z menjadi kelompok usia yang paling aktif menggunakan chatbot AI. Sebanyak 66% responden berusia 18 hingga 29 tahun mengaku pernah menggunakan teknologi tersebut.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 30 hingga 49 tahun yang mencapai 61%. Sementara itu, penggunaan AI pada kelompok usia 50 hingga 64 tahun berada di angka 42%, dan turun menjadi kurang dari seperempat pada kelompok usia 65 tahun ke atas.
Meski paling banyak menggunakan AI, Gen Z juga menjadi kelompok yang menunjukkan tingkat kekhawatiran cukup tinggi. Sebanyak 48% responden dari kelompok usia tersebut memperkirakan AI dapat memberikan dampak negatif bagi masyarakat.
Baca Juga: RedDoorz: Gen Z dan Milenial Kini Cari Liburan yang Worth It, Jogja Tetap Jadi Favorit
Fenomena ini menunjukkan adanya sikap yang berlawanan di kalangan generasi muda. Di satu sisi, AI membantu berbagai aktivitas seperti mencari informasi, bekerja, hingga belajar. Namun di sisi lain, mereka mulai menyadari adanya risiko terkait perkembangan teknologi tersebut.
Mengapa Gen Z Mulai Khawatir dengan AI?
Kekhawatiran terhadap AI tidak lepas dari berbagai isu yang muncul seiring berkembangnya teknologi ini, mulai dari keamanan data, akurasi informasi, hingga dampaknya terhadap dunia kerja.
Salah satu faktor yang membuat masyarakat tetap menggunakan AI meski memiliki kekhawatiran adalah tuntutan adaptasi. Di lingkungan kerja maupun pendidikan, AI semakin banyak digunakan untuk meningkatkan produktivitas sehingga banyak orang merasa perlu mengikuti perkembangan teknologi tersebut.
Sebagian pengguna akhirnya memanfaatkan AI bukan hanya karena tertarik, tetapi karena kebutuhan untuk tetap relevan di tengah perubahan digital.
Baca Juga: Dua Mata Pisau Artificial Intelligence dalam Pertumbuhan Ekonomi RI
Tantangan Membangun Kepercayaan terhadap AI
Meningkatnya kekhawatiran publik menjadi tantangan bagi perkembangan industri AI ke depan. Selain menghadirkan inovasi, perusahaan teknologi juga perlu membangun kepercayaan masyarakat melalui transparansi mengenai cara kerja AI, batasan teknologi, serta upaya mengurangi risiko yang mungkin muncul.
Para pengembang dan pembuat kebijakan juga dituntut memastikan bahwa perkembangan AI berjalan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia.
Dengan penggunaan yang semakin luas, masa depan AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kemampuan industri membangun rasa aman dan kepercayaan publik.