Di tengah popularitas istilah “kalcer” yang tengah viral di kalangan anak muda, praktik berzakat dan bersedekah kini tak lagi dipandang semata sebagai kewajiban keagamaan. Dengan dukungan inovasi digital, aktivitas filantropi Islam mulai bergeser menjadi bagian dari gaya hidup yang praktis, inklusif, sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
Hal ini mengemuka dalam konferensi pers bertema “Ramadhan Kalcer” yang digelar di Topgolf Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026). Pada kesempatan tersebut diluncurkan aplikasi sedekah rutin hasil kolaborasi bersama Maybank Indonesia, yang melibatkan Kementerian Agama RI, Maybank Syariah, Super Volunteer, dan Dompet Dhuafa.
Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana teknologi digital dapat memperluas akses masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial-keagamaan.
Moderator acara, Dadi Krismatono, Advisor & Senior Editor Good News From Indonesia, membuka diskusi dengan pendekatan yang segar. Ia mengadopsi bahasa populer untuk mendekatkan isu zakat dengan generasi muda.
“Berzakat itu kalcer,” ujarnya.
Baca Juga: Dompet Dhuafa Gandeng Musisi dan Ruang Kreatif Satukan Energi untuk Pemulihan Sumatra dan Aceh
Hadir sebagai narasumber Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI; Romy H. Buchari, Direktur Unit Usaha Syariah PT Bank Maybank Syariah Indonesia Tbk; Aliah Sayuti, Super Volunteer Dompet Dhuafa; serta Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika.
Prof. Abu Rokhmad mengungkapkan potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf di Indonesia mencapai sekitar Rp1.200 triliun. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya tercatat maupun terhimpun secara optimal.
“Angkanya sangat besar, tetapi belum semuanya terdata. Peran lembaga seperti Dompet Dhuafa sangat penting dalam memastikan dana tersalurkan dan memberi dampak nyata,” katanya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan lembaga zakat tidak hanya diukur dari besaran dana yang dihimpun, melainkan dari dampak sosial yang dirasakan mustahik.
“Kami mendorong penggunaan data tunggal sosial ekonomi nasional agar penyaluran tidak tumpang tindih dan penerima manfaat dapat meningkat taraf hidupnya,” tambahnya.
Ke depan, Kementerian Agama juga merancang pembentukan Lembaga Pengumpul Dana Umat (LPD) sebagai holding yang mengintegrasikan pengelolaan dana sosial dari berbagai sumber, termasuk BUMN.
Baca Juga: Bantuan DMC Dompet Dhuafa untuk Warga Korban Banjir di Pulau Sumatera
“Tujuannya agar penyaluran lebih terstruktur dan berdampak jangka panjang,” jelas Abu Rokhmad.
Sementara itu, Romy Buchari menjelaskan inovasi digital yang dihadirkan melalui kolaborasi Maybank Syariah dan Dompet Dhuafa lewat teknologi API account binding.
“Ini pertama kali di Indonesia untuk integrasi antara lembaga zakat dan perbankan syariah. Nasabah dapat berdonasi langsung dari rekening tanpa transfer manual, bahkan menjadwalkan donasi otomatis, misalnya sebelum salat Jumat atau subuh,” paparnya.
Baca Juga: Dompet Dhuafa Luncurkan IKON, Industri Komunal Penggerak Ekonomi Cirangkong
Menurutnya, digitalisasi membuka peluang partisipasi lebih luas, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
“Donasi kecil namun konsisten tetap memberi dampak besar. Teknologi membantu masyarakat berdonasi dengan mudah, aman, dan nyaman,” ujarnya.
Dari sisi pengalaman lapangan, Aliah Sayuti berbagi kisah sebagai super volunteer Dompet Dhuafa sejak 2017. Ia menilai aktivitas kerelawanan sebagai bagian dari budaya sosial yang membentuk empati dan ketangguhan.
“Volunteer itu culture karena kita melihat langsung realitas masyarakat. Program seperti Tebar Hewan Kurban memberi tantangan, tapi juga mengajarkan ketahanan dan harapan di tengah krisis,” ungkapnya.
Menjelang Ramadan, ia berencana terlibat dalam program zakat fitrah dan pendampingan anak yatim.
“Mereka sering memilih kebutuhan keluarga seperti beras atau buku, bukan mainan. Itu menyadarkan saya bahwa kebaikan adalah budaya yang membentuk diri kita,” tambahnya.
Menutup diskusi, Ahmad Juwaini menegaskan zakat merupakan rukun Islam yang memiliki dimensi sosial kuat. Ia menyebut keberlangsungan Dompet Dhuafa selama lebih dari tiga dekade tak lepas dari kepercayaan publik serta tata kelola berbasis syariah dan etika
“Kolaborasi dengan Maybank meningkatkan transparansi dan kemudahan transaksi. Teknologi perbankan membantu akuntabilitas sehingga muzaki lebih nyaman menyalurkan infaknya,” katanya.
Lebih dari sekadar peluncuran aplikasi, acara ini menjadi refleksi perubahan cara pandang masyarakat terhadap filantropi Islam. Dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan teknologi, aktivitas berzakat dan bersedekah semakin mudah diakses dan berpotensi menjadi bagian dari budaya modern, terutama menjelang Ramadan.
Baca Juga: Dompet Dhuafa Perkuat Kolaborasi dengan Berbagai Komunitas di Indonesia
Transformasi ini menunjukkan bahwa nilai kebaikan dapat berjalan seiring perkembangan digital, membawa harapan agar semangat berbagi tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga kebiasaan sosial yang relevan bagi generasi masa kini.