Lebih lanjut, Prof. Aman mengingatkan bahwa kelebihan asupan kalori dapat memicu berbagai masalah kesehatan yang justru menghambat pertumbuhan tinggi badan anak.
Salah satunya, kata dia, adalah obesitas yang dapat mempercepat proses pematangan tulang.
"Anak berisiko menjadi obesitas. Kemudian lempeng pertumbuhan tulangnya bisa menutup lebih cepat. Selain itu, ada risiko pubertas dini, terutama pada anak perempuan, apalagi bila memiliki riwayat lahir dengan berat badan rendah. Akibatnya, masa pertumbuhan menjadi lebih singkat sehingga tinggi badan akhirnya tidak optimal," jelas Prof. Aman.
Menurutnya, untuk mendukung pertumbuhan tinggi badan secara maksimal, orang tua tidak cukup hanya mengandalkan susu.
“Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari asupan gizi yang seimbang, kualitas tidur yang cukup, aktivitas fisik yang rutin, hingga pemantauan pertumbuhan secara berkala,” bebernya.
Ia pun menekankan bahwa tujuan utama pemberian nutrisi adalah memenuhi kebutuhan gizi sesuai usia, bukan sekadar menambah berat badan.
"Yang terpenting adalah memastikan anak mendapatkan gizi yang seimbang, tidur yang cukup, aktif bergerak, serta rutin memantau pertumbuhan tinggi dan berat badannya sesuai kurva pertumbuhan. Itulah kunci agar anak dapat mencapai tinggi badan yang optimal," pungkas Prof. Aman.
Baca Juga: Anak Generasi Alpha Disebut Lebih Sensitif dari Gen Z, Ini Alasannya Menurut Psikolog