Di tengah tekanan untuk mengejar target bisnis jangka pendek, Guru Besar Kepemimpinan Bisnis di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Donald Crestofel Lantu, menegaskan bahwa kemampuan berpikir jangka panjang menjadi salah satu pembeda utama antara perusahaan biasa dan perusahaan yang mampu bertahan serta terus berkembang selama puluhan tahun.

Menurut Donald, banyak perusahaan kelas dunia berhasil mempertahankan pertumbuhannya karena para pemimpinnya tidak hanya berfokus pada keuntungan sesaat, tetapi juga memiliki visi yang jauh ke depan.

Pola pikir tersebut, kata dia, juga menjadi prinsip investasi yang selama ini dipegang oleh investor legendaris Warren Buffett.

"Dalam banyak kasus, baik individual maupun perusahaan, kemampuan untuk berpikir long term itu menjadi kritikal. Kalau kita pelajari berbagai buku kepemimpinan, seperti Good to Great maupun buku lainnya, salah satu karakteristik pemimpin dan perusahaan yang sukses adalah bagaimana berpikir secara long term. Guru saya, Warren Buffett, juga sangat menekankan pentingnya berpikir long term," ungkap Donald kepada Olenka, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Donald mengingatkan agar perusahaan tidak terjebak mengejar target keuntungan kuartalan semata.

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah membangun fondasi bisnis yang mampu bertahan dan terus bertumbuh hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.

"Jangan sampai kita hanya berpikir terkait target jangka pendek, misalnya keuntungan kuartal satu atau kuartal dua. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun perusahaan agar bisa sustain puluhan tahun ke depan, bahkan sampai 100 tahun," katanya.

Sebagai contoh, Donald menyoroti strategi Amazon yang sejak awal lebih memilih menginvestasikan kembali keuntungan perusahaan daripada membagikan dividen kepada pemegang saham.

Langkah tersebut, kata dia, dilakukan untuk mendanai ekspansi bisnis dan menciptakan sumber pertumbuhan baru.

"Amazon mengorbankan kepentingan jangka pendek untuk membiayai perkembangan masa depan. Keuntungan yang diperoleh dialokasikan untuk membangun bisnis-bisnis baru yang kemudian berkembang menjadi sangat besar. Salah satunya adalah bisnis cloud yang sekarang justru menjadi penyumbang pendapatan jauh lebih besar dibandingkan bisnis marketplace-nya," jelasnya.

Baca Juga: Ingin Bisnis Naik Level? Ini Strategi Scale Up ala Theo Derick