Mengajarkan anak bahasa asing sejak dini kini semakin menjadi pilihan banyak orang tua, terutama di Indonesia. Selain membuka peluang komunikasi yang lebih luas di masa depan, kebiasaan belajar bahasa baru juga dipercaya dapat membantu mengoptimalkan perkembangan otak anak. 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mengenal kosakata, memahami pola bahasa, hingga beradaptasi dengan aturan linguistik yang berbeda dapat melatih kemampuan berpikir, daya ingat, dan fokus anak sejak usia dini.

Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kemampuan berbahasa di era global, banyak keluarga mulai memadukan interaksi sehari-hari, pendidikan formal, hingga platform digital untuk mengenalkan bahasa asing kepada anak. 

Tak hanya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, pembelajaran bahasa juga dinilai mampu memberikan stimulasi kognitif yang bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.

Baca Juga: 8 Tempat Liburan Ramah Anak di Bogor, Cocok Dikunjungi saat Libur Sekolah

  1. Belajar Bahasa Jadi "Latihan" bagi Otak

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mempelajari bahasa baru melibatkan berbagai fungsi otak secara bersamaan. Mulai dari mengingat kosakata, memahami konteks percakapan, mengenali pola bahasa, hingga menyesuaikan diri dengan aturan linguistik yang berbeda.

Menurut riset yang dikemukakan Duolingo, proses belajar bahasa secara rutin mendorong otak untuk terus memanggil kembali informasi, mengenali pola, serta beralih di antara berbagai konsep. Aktivitas tersebut dinilai bekerja layaknya olahraga mental yang membantu menjaga dan melatih kemampuan kognitif.

Temuan serupa juga terlihat dalam studi yang dilakukan Baycrest dan York University. Penelitian tersebut menemukan bahwa orang dewasa yang menggunakan Duolingo selama sekitar 30 menit setiap hari selama empat bulan mengalami peningkatan pada sejumlah fungsi kognitif, termasuk memori kerja, fokus, dan fleksibilitas berpikir dibandingkan kelompok kontrol.