Ia juga mengingatkan pentingnya kondisi saat pengukuran. Tubuh sebaiknya dalam keadaan rileks, sudah beristirahat setidaknya lima menit, tidak berbicara selama proses pengukuran, dan posisi lengan sejajar dengan jantung.
Menurutnya, lingkungan yang tenang serta waktu pengukuran yang konsisten setiap hari akan membantu menghasilkan data yang lebih akurat.
Lebih dari sekadar satu angka, pemantauan tekanan darah sebaiknya dilihat sebagai proses jangka panjang. Prof. Fayaz menyarankan agar pengukuran dilakukan di waktu yang sama setiap hari, bahkan dua kali sehari jika dianjurkan dokter.
Dalam satu sesi, sebaiknya dilakukan dua kali pengukuran lalu diambil rata-ratanya. Hasil tersebut kemudian dicatat, baik secara digital maupun manual, lengkap dengan informasi tambahan seperti kondisi stres, konsumsi obat, atau aktivitas fisik.
“Analisis tren dalam jangka waktu yang lebih lama jauh lebih informatif daripada hasil tekanan darah tunggal,” ujarnya.
Yang tak kalah penting adalah mengetahui kapan harus bertindak. Jika hasil pengukuran secara konsisten menunjukkan angka di atas 140/90 mmHg, atau jika muncul gejala seperti sakit kepala hebat, nyeri dada, sesak napas, atau gangguan penglihatan, maka konsultasi medis tidak boleh ditunda.
Penanganan sejak dini, baik melalui perubahan gaya hidup maupun pengobatan dapat mencegah risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.
Nah Growthmates, pada akhirnya, tekanan darah bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan hanya karena tubuh terasa baik-baik saja.
Justru karena sifatnya yang diam-diam, kesadaran dan kebiasaan memantau secara rutin menjadi pertahanan utama.
Seperti yang ditekankan Prof. Fayaz, memahami hal-hal kecil yang sering dianggap sepele justru bisa membuat perbedaan besar bagi kesehatan jangka panjang.
Baca Juga: Mitos atau Fakta: Risiko Stroke Hanya Mengintai Penderita Tekanan Darah Tinggi?