Growthmates, tekanan darah sering kali menjadi hal yang diabaikan, hingga suatu hari muncul masalah serius. Inilah yang membuatnya berbahaya.

Tidak seperti banyak kondisi kesehatan lain, tekanan darah tinggi jarang memberikan tanda peringatan yang jelas. Anda bisa merasa baik-baik saja, menjalani aktivitas seperti biasa, sementara tekanan darah perlahan naik tanpa disadari.

Padahal, memahami dan memantau tekanan darah bukan sekadar soal angka. Banyak orang masih bingung, seberapa sering harus memeriksa, apakah alat di rumah bisa dipercaya, hingga bagaimana membaca hasilnya dengan benar.

Dan, di tengah informasi yang simpang siur, penjelasan dari ahli menjadi sangat penting. Dikutip dari Times of India, Jumat (27/3/2026), Prof. Dr. S M Fayaz, Kepala dan Konsultan Senior Penyakit Dalam, mengurai berbagai kesalahpahaman umum tentang tekanan darah, mulai dari kebiasaan sederhana hingga momen krusial untuk mencari bantuan medis.

Ia menjelaskan bahwa orang dewasa sehat khususnya usia 20–30 tahun tanpa faktor risiko, tetap perlu memeriksa tekanan darah secara rutin, setidaknya setiap enam hingga dua belas bulan.

Namun, bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga hipertensi, obesitas, diabetes, atau gaya hidup kurang aktif, frekuensi pemeriksaan sebaiknya lebih sering, yakni setiap tiga hingga enam bulan.

Menurutnya, pemantauan tekanan darah secara teratur sangat penting untuk deteksi dini hipertensi serta mencegah komplikasi.

Salah satu alasan utama banyak orang terlambat menyadari kondisi mereka adalah karena tekanan darah tinggi dikenal sebagai silent killer.

“Kebanyakan orang dengan tekanan darah tinggi merasa normal,” jelasnya.

Tanpa gejala seperti sakit kepala atau pusing, kondisi ini sering baru terdeteksi ketika sudah mencapai tahap yang cukup parah atau bahkan saat komplikasi muncul. Inilah mengapa pemeriksaan rutin menjadi kunci, bukan menunggu gejala.

Lalu, bagaimana dengan penggunaan alat ukur tekanan darah di rumah? Prof. Fayaz menegaskan bahwa alat tersebut pada dasarnya dapat diandalkan, asalkan digunakan dengan benar dan telah tervalidasi secara klinis.

Sayangnya, banyak kesalahan kecil yang sering terjadi dan membuat hasilnya tidak akurat.

Mulai dari penggunaan manset yang tidak sesuai ukuran, mengukur tekanan darah setelah berolahraga atau mengonsumsi kafein, hingga posisi tubuh yang salah seperti duduk tanpa sandaran atau kaki menyilang.

Baca Juga: Bukan Tekanan Darah Tinggi, Ini Penyebab Utama Stroke yang Wajib Diwaspadai