Growthmates, diabetes selama ini lebih sering dikaitkan dengan gangguan jantung, ginjal, atau saraf. Padahal, ada satu organ penting yang kerap luput dari perhatian, yaitu mata.
Di sinilah kerusakan sering kali dimulai secara perlahan, tanpa rasa sakit, dan hampir tanpa tanda. Penglihatan bisa menurun sedikit demi sedikit, hingga akhirnya disadari saat kondisinya sudah sulit dipulihkan.
Dikutip dari Times of India, Selasa (28/4/2026), Dokter Spesialis Mata, Dr. Nusrat Bukhari, mengingatkan bahwa diabetes tidak hanya menyerang organ vital yang umum dibicarakan, tetapi juga mata.
Pernyataan ini menegaskan satu hal penting: dampak diabetes jauh lebih luas daripada yang disadari banyak orang.
Di dalam mata, terdapat retina, lapisan tipis di bagian belakang yang berfungsi menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal visual ke otak. Retina dipenuhi pembuluh darah kecil yang sangat halus. Ketika kadar gula darah tinggi berlangsung dalam waktu lama, pembuluh darah ini mulai mengalami kerusakan.
Dindingnya melemah, bisa membengkak, bocor, bahkan tersumbat. Dalam beberapa kasus, tubuh mencoba membentuk pembuluh darah baru, tetapi sayangnya struktur baru ini rapuh dan justru memperparah kondisi.
Proses ini dikenal sebagai Retinopati diabetik, salah satu penyebab utama kehilangan penglihatan secara global. Kondisi ini berkembang perlahan dan sering kali tanpa gejala pada tahap awal, sehingga banyak penderita tidak menyadarinya sampai kerusakan sudah signifikan.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Kerusakan akibat diabetes pada mata sering membuka pintu bagi berbagai gangguan lain.
Edema makula diabetik dapat terjadi ketika cairan menumpuk di retina dan menyebabkan pembengkakan. Katarak juga bisa muncul lebih dini dibandingkan pada orang tanpa diabetes, sementara Glaukoma meningkatkan tekanan di dalam mata dan merusak saraf optik.
Baca Juga: Penderita Diabetes Wajib Tahu, 12 Makanan Ini Diam-diam Bikin Gula Darah Melonjak
Menurut Dr. Bukhari, risiko berbagai kondisi ini meningkat drastis pada penderita diabetes yang tidak terkontrol.
Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah sifatnya yang 'sunyi'. Banyak orang merasa penglihatannya baik-baik saja, padahal kerusakan sudah berjalan.
Ketika gejala mulai muncul, biasanya berupa penglihatan kabur, munculnya bintik-bintik gelap atau bayangan melayang, kesulitan melihat di malam hari, atau perubahan penglihatan yang terjadi tiba-tiba. Pada tahap ini, penanganan menjadi lebih kompleks.
Data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa hampir setengah penderita penyakit mata akibat diabetes tidak menyadari kondisi mereka pada fase awal. Ini menjelaskan mengapa banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap lanjut.
Diabetes juga jarang bekerja sendirian. Ia memicu reaksi berantai dalam tubuh. Gula darah tinggi merusak pembuluh darah, tekanan darah tinggi memperburuk tekanan pada dinding pembuluh, kolesterol tinggi menghambat aliran darah, dan kebiasaan merokok mengurangi suplai oksigen. Kombinasi ini menciptakan kondisi ideal bagi kerusakan mata yang semakin cepat.
Namun, ada kabar baik. Sebagian besar kerusakan ini sebenarnya bisa dicegah atau setidaknya diperlambat. Kuncinya terletak pada konsistensi dalam menjaga kesehatan.
Mengontrol kadar gula darah tetap dalam batas normal menjadi langkah utama. Pemeriksaan rutin seperti HbA1c membantu memantau kondisi dalam jangka panjang.
Pola makan sehat yang kaya serat, aktivitas fisik teratur, serta pengelolaan stres juga berperan besar dalam menjaga kesehatan pembuluh darah, termasuk yang ada di mata.
Yang tak kalah penting adalah pemeriksaan mata secara berkala. Bahkan ketika penglihatan terasa normal, pemeriksaan tahunan dapat mendeteksi perubahan kecil sebelum berkembang menjadi masalah serius.
Seperti yang ditegaskan Dr. Bukhari, menjaga kadar gula darah dalam kisaran yang direkomendasikan adalah langkah penting untuk mencegah komplikasi pada mata.
Baca Juga: Tren Diabetes Usia Muda Meningkat, Ini Penjelasan Dokter Ahli