Di tengah dunia yang dipenuhi gulir tanpa henti, notifikasi yang terus berbunyi, dan kebisingan digital, banyak orang merasa kemampuan fokus mendalam mereka perlahan terkikis.

Waktu habis untuk layar, sementara imajinasi, refleksi, dan kreativitas semakin jarang mendapat ruang.

Memulihkan kejernihan pikiran tidak cukup hanya dengan menaruh ponsel sejenak. Dibutuhkan perubahan cara pandang, mencakup kembali menghargai kedalaman, keheningan, dan proses berpikir yang utuh.

Dan, 5 buku di bawah ini menawarkan jalan untuk kembali terhubung dengan sisi kreatif dan reflektif diri kita, bagian yang sudah ada jauh sebelum algoritma dan media sosial mendominasi hidup.

Lewat bacaan ini, Anda dapat mulai melepaskan diri dari gangguan modern dan menemukan kembali kejernihan pikiran yang lebih tenang dan bebas.

1. The Courage to Create karya Rollo May

Rollo May melihat kreativitas bukan sekadar kemampuan membuat sesuatu, tetapi sebagai tindakan keberanian.

Buku ini menggali perjuangan batin manusia saat mencoba menghadirkan ide baru ke dunia yang sering kali lebih nyaman mempertahankan hal lama.

May menjelaskan bahwa kreativitas menuntut keberanian menghadapi ketidakpastian, kritik, dan kemungkinan gagal. Namun justru di sanalah pertumbuhan terjadi.

Buku ini mendorong pembaca untuk berhenti sekadar mengikuti arus dan mulai mengekspresikan pemikiran orisinal mereka.

Bacaan ini cocok bagi siapa pun yang ingin keluar dari rutinitas konsumsi konten dan mulai kembali menjadi pencipta gagasan.

2. Women Who Run with the Wolves karya Clarissa Pinkola Estés

Buku klasik ini menggunakan cerita rakyat dan mitologi dari berbagai budaya untuk membantu pembaca terhubung kembali dengan naluri dan intuisi terdalam mereka.

Clarissa Pinkola Estés menggambarkan bagaimana kehidupan modern sering membuat manusia khususnya perempuan, menekan sisi liar, kreatif, dan intuitif dalam dirinya.

Melalui kisah-kisah seperti Bluebeard dan Skeleton Woman, pembaca diajak mengenali pola psikologis yang menahan pertumbuhan pribadi.

Buku ini seperti perjalanan kembali ke ‘hutan batin’, tempat kreativitas dan insting alami kembali hidup, jauh dari distraksi digital yang membuat pikiran mudah lelah.

Baca Juga: 3 Buku Filsafat Pendek yang Mengubah Cara Anda Melihat Kehidupan