Growthmates, ada buku yang menuntut waktu, dan ada buku yang menuntut perhatian. Filsafat, dalam bentuknya yang paling kuat, jarang datang sebagai ceramah panjang.

Ia hadir sebagai gangguan kecil yang tenang, cukup untuk membuat kita berhenti sejenak dan melihat ulang kehidupan sehari-hari yang sering berjalan otomatis.

Tiga buku berikut tergolong pendek jika dilihat dari jumlah halaman. Namun, dampaknya jauh melampaui ukurannya.

Mereka tidak menawarkan sistem atau resep hidup instan. Sebaliknya, ketiganya meninggalkan pertanyaan yang terus tinggal di kepala pembaca, tentang waktu, kematian, dan bagaimana kita menjalani hidup yang sudah berjalan ini.

1. The Death of Ivan Ilyich karya Leo Tolstoy

Novela karya Leo Tolstoy ini menjadi salah satu potret paling jujur tentang kehidupan yang dijalani tanpa benar-benar dipertanyakan.

Ivan Ilyich bukanlah sosok jahat. Ia seorang pria yang berhasil, dihormati, dan hidup sesuai standar sosial yang dianggap benar.

Namun, ketika penyakit datang dan rutinitas serta status sosialnya perlahan runtuh, ia mulai menyadari sesuatu yang mengganggu: apakah hidupnya benar-benar bermakna?

Tolstoy tidak memberi hiburan atau pelipur lara. Justru di situlah kekuatan cerita ini. Kematian menjadi cermin yang memaksa tokohnya dan pembacanya untuk bertanya 'apakah selama ini kita hidup sesuai harapan orang lain atau sesuai kebenaran yang kita yakini sendiri?'. Buku ini singkat, tetapi sulit dilupakan.

Baca Juga: 10 Pelajaran dari Buku 'The Comfort Crisis' tentang Bahaya Hidup Terlalu Nyaman