Dan, berikut 10 risiko terbesar perusahaan di tahun 2025, menurut Forbes, Jumat (29/8/2025):

1. Disinformasi

Penyebaran informasi palsu atau menyesatkan secara sengaja yang dapat merusak kredibilitas dan reputasi organisasi.

2. Pelanggaran Privasi Data

Pelanggaran terhadap hak individu dalam mengontrol bagaimana data pribadinya dikumpulkan, digunakan atau dibagikan.

3. Korupsi

Praktik tidak etis atau ilegal seperti penyuapan, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang oleh pemimpin atau organisasi.

4. Kegagalan Etika Organisasi

Pelanggaran terhadap standar etika yang menyebabkan dampak hukum dan kerusakan reputasi perusahaan.

5. Gangguan Operasional Besar

Peristiwa seperti bencana alam, pandemi, hingga insiden buatan manusia seperti penembakan massal atau ledakan.

6. Kontroversi CEO

Sorotan negatif terhadap tindakan atau keputusan CEO yang dapat menggoyahkan kepercayaan publik dan investor.

7. Hubungan dengan Tiongkok

Hubungan nyata maupun persepsi dengan pemerintah atau perusahaan Tiongkok yang menimbulkan kekhawatiran geopolitik atau keamanan nasional.

8. Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan

Dampak langsung atau tidak langsung terhadap lingkungan, termasuk deforestasi, emisi karbon, dan polusi industri.

9. Praktik Antikompetitif dan Monopoli

Tindakan yang membatasi kompetisi seperti kartel, merger dominan, atau praktik pasar yang tidak adil.

10. Pelanggaran Kekayaan Intelektual

Kasus pencurian atau penggunaan tanpa izin terhadap karya kreatif, paten, hak cipta, atau merek dagang.

Penelitian ini dilakukan oleh firma hubungan masyarakat Global Situation Room. Untuk edisi kuartal kedua, analisis dilakukan terhadap artikel berita daring dari 16 Februari hingga 15 Mei 2025.

Hasil analisis kemudian divalidasi melalui survei terhadap lebih dari 100 anggota Dewan Penasihat Risiko Global yang terdiri dari mantan kepala negara, eksekutif senior, dan pemimpin

Dalam lingkungan bisnis yang dipenuhi ketidakpastian, perusahaan tak bisa hanya bereaksi terhadap tren risiko yang sedang ramai dibicarakan.

Seperti disampaikan oleh Costa, yang dibutuhkan adalah visi jangka panjang dan kemampuan adaptasi yang tinggi karena krisis selanjutnya kemungkinan besar tidak akan datang dari arah yang sama seperti sebelumnya.

Baca Juga: 3 Prioritas untuk Mendorong Kepemimpinan Perempuan di Era AI