Growthmates, dalam dunia bisnis yang terus berubah, satu hal yang tetap konstan adalah ketidakpastian.
Laporan Global Risk Advisory Council (Dewan Penasihat Risiko Global) terbaru mengungkapkan bahwa 10 risiko terbesar yang dihadapi perusahaan saat ini telah bergeser secara dramatis hanya dalam kurun waktu tiga bulan.
Perubahan ini menunjukkan betapa cepatnya lanskap risiko bisa berganti arah dan betapa pentingnya kesiapan menghadapi krisis berikutnya.
Yang mengejutkan, ancaman utama di kuartal kedua 2025 bukan lagi kecanggihan teknologi yang disalahgunakan, melainkan sesuatu yang lebih mendasar, namun sangat berbahaya: disinformasi.
“Disinformasi telah menjadi sorotan, mencerminkan kecemasan yang berkelanjutan tentang bagaimana teknologi membentuk wacana publik,” ujar Cate Costa, anggota dewan dan mantan Wakil Presiden Filantropi Perusahaan dan Usaha Kecil di JP Morgan Chase, sebagaimana dikutip dari Forbes, Jumat (29/8/2025).
Dari AI ke Disinformasi
Masih pada kuartal pertama 2025, penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) menjadi kekhawatiran utama dunia usaha. Namun hanya dalam tiga bulan, ancaman tersebut justru turun dari daftar 10 besar.
Sebaliknya, disinformasi, yang sebelumnya tidak muncul sama sekali dalam peringkat, kini menjadi risiko nomor satu.
Costa menjelaskan bahwa perubahan drastis ini mencerminkan volatilitas global yang semakin tinggi. Disinformasi sering kali diperkuat oleh dinamika politik yang terpolarisasi serta penyebaran cepat melalui media sosial dan teknologi AI generatif.
“Mengandalkan data kuartal terakhir saja tidaklah cukup. Kesuksesan di era ini membutuhkan kemampuan melihat ke depan dan mempersiapkan diri terhadap ancaman yang belum tampak di permukaan,” paparya.
Peta Risiko yang Beragam di Tiap Wilayah
Indeks Risiko Reputasi juga menunjukkan bahwa pemicu risiko sangat bergantung pada konteks lokal, baik dari sisi geografi, politik, maupun ekspektasi sosial.
Di Eropa, misalnya, kekhawatiran terhadap perilaku korporasi yang tidak etis serta praktik bisnis antikompetitif mendominasi kekhawatiran publik. Sebaliknya, di Amerika Serikat, isu yang paling mencuat adalah disinformasi dan pelanggaran privasi data.
Meskipun tren deregulasi iklim terjadi di Amerika Serikat, tekanan terhadap sektor swasta tetap tinggi di Eropa, terutama dari Brussels dan pemangku kepentingan transatlantik, menjadikan perubahan iklim tetap masuk dalam jajaran tiga besar risiko global.
Baca Juga: Para CEO Wajib Tahu, Ini 5 Tension Point yang Membentuk Pemimpin Bisnis Transformasional