6. Untamed — Glennon Doyle

Sebagian memoar dan sebagian manifesto, Untamed mengajak perempuan mempertanyakan peran yang selama ini ditentukan oleh masyarakat.

Glennon Doyle menulis tentang keberanian meninggalkan pernikahan yang tidak lagi membahagiakan, menemukan cinta baru, dan belajar mempercayai intuisi diri sendiri.

Pesan utamanya sederhana, yakni perempuan tidak perlu menjadi 'versi lebih baik' dari diri mereka, mereka hanya perlu kembali menjadi diri mereka yang sebenarnya.

7. Wild — Cheryl Strayed

Setelah kehilangan ibunya dan hidupnya terasa berantakan, Cheryl Strayed memutuskan melakukan perjalanan sendirian menyusuri Pacific Crest Trail sejauh lebih dari seribu mil.

Dalam Wild, perjalanan fisik yang melelahkan itu berubah menjadi proses penyembuhan emosional. Melalui kesendirian dan refleksi, ia menemukan kembali kekuatan dirinya.

8. We Should All Be Feminists — Chimamanda Ngozi Adichie

Berasal dari ceramah TED yang viral, We Should All Be Feminists adalah esai singkat namun tajam tentang makna feminisme di dunia modern.

Chimamanda Ngozi Adichie mengangkat pengalaman pribadinya di Nigeria untuk menyoroti seksisme yang sering dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini menegaskan bahwa kesetaraan gender bukan hanya isu perempuan, tetapi juga kepentingan seluruh masyarakat.

9. The Diary of a Young Girl — Anne Frank

Ditulis saat bersembunyi dari Nazi selama World War II, The Diary of a Young Girl berisi catatan harian Anne Frank yang penuh kejujuran, harapan, dan refleksi seorang remaja.

Meskipun berada dalam situasi yang menakutkan, suaranya tetap hidup dan penuh rasa ingin tahu.

Catatan sederhana ini kemudian menjadi salah satu kesaksian paling kuat tentang ketahanan manusia dalam sejarah.

10. The Color Purple — Alice Walker

Berlatar Amerika Selatan pada awal abad ke-20, The Color Purple mengisahkan Celie, seorang perempuan yang mengalami kekerasan, rasisme, dan kehilangan mendalam.

Melalui surat-surat yang ia tulis dan hubungan dengan perempuan lain yang kuat, Celie perlahan menemukan suara serta kemandiriannya.

Novel pemenang Pulitzer Prize for Fiction ini pada akhirnya adalah kisah tentang transformasi, martabat, dan keberanian untuk membangun masa depan baru.

Nah Growthmates, deretan buku ini menunjukkan satu benang merah, yaitu perempuan yang berani menolak diam.

Mereka mempertanyakan norma, melawan ketidakadilan, dan menulis ulang cerita hidup mereka sendiri.

Kisah-kisah tersebut mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan kecil seperti berani bersuara, berani belajar, dan berani memilih jalan hidup sendiri.

Baca Juga: 5 Penulis Perempuan yang 'Meramalkan' Krisis Dunia Melalui Buku Mereka