Dulu, bekerja di perusahaan teknologi, perbankan investasi, atau konsultan ternama dianggap sebagai jaminan karier yang mapan. Namun, kondisi tersebut mulai berubah. Di tengah perlambatan ekonomi dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), sejumlah profesi bergaji tinggi justru semakin rentan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Gelombang PHK yang semula diperkirakan hanya menjadi langkah efisiensi sementara kini masih terus berlanjut. Perusahaan di berbagai sektor memangkas ribuan karyawan sebagai bagian dari strategi restrukturisasi sekaligus mengalihkan investasi ke teknologi AI.

Baca Juga: Kemnaker Mediasi Kasus PHK 133 Pekerja PT Amos Indah Indonesia

Data dari firma konsultan Janco Associates yang mengacu pada Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi mencapai 3,8% pada April 2026, naik dari 3,6% pada Maret 2026.

Sejumlah perusahaan teknologi bahkan secara terbuka menyebut investasi AI sebagai salah satu alasan di balik pengurangan tenaga kerja. Meta, misalnya, memangkas sekitar 8.000 karyawan atau sekitar 10% dari total pegawainya untuk merampingkan operasional sekaligus mendukung investasi di bidang AI.

Sementara itu, Nike juga mengurangi sekitar 1.400 karyawan atau 2% dari total tenaga kerjanya, dengan sebagian besar berasal dari divisi teknologi. Snap pun mengambil langkah serupa dengan memangkas sekitar 1.000 karyawan atau 16% dari total pegawainya demi meningkatkan efisiensi perusahaan.

Baca Juga: Ancaman AI Kian Nyata, Bill Gates Ungkap 3 Profesi yang Dinilainya Sulit Digantikan

Tak hanya itu, sektor teknologi lain seperti telekomunikasi dan pengolahan data juga mengalami penurunan lapangan kerja hingga 11% atau sekitar 342 ribu posisi, dengan puncak penurunan terjadi sejak November 2022.

Profesi Bergaji Tinggi Kini Tak Lagi Kebal PHK

Selama bertahun-tahun, profesi seperti software engineer, data scientist, dan product manager menjadi incaran perusahaan teknologi. Persaingan mendapatkan talenta digital membuat perusahaan berani menawarkan gaji tinggi, bonus besar, hingga opsi saham.

Namun, situasinya kini berubah. Tingginya suku bunga global dan melambatnya pendanaan dari modal ventura membuat banyak perusahaan teknologi, mulai dari startup hingga perusahaan raksasa, melakukan efisiensi secara besar-besaran.

Ironisnya, posisi dengan gaji tinggi justru menjadi salah satu yang paling banyak terdampak karena perusahaan berupaya menekan biaya operasional.

Baca Juga: Integritas, Profesionalisme, Entrepreneurship, dan Rahasia Kesuksesan Ciputra

Kondisi serupa juga terjadi di sektor perbankan investasi dan perusahaan konsultan. Menurunnya aktivitas merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran saham perdana (IPO) membuat kebutuhan terhadap sejumlah posisi dengan bayaran tinggi ikut berkurang.

AI Turut Mengubah Kebutuhan Tenaga Kerja

Selain tekanan ekonomi, adopsi AI generatif juga menjadi faktor yang mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai industri.

Jika sebelumnya AI lebih banyak digunakan untuk mengotomatisasi pekerjaan rutin, kini teknologi tersebut mulai mampu mengerjakan sebagian tugas yang sebelumnya ditangani pekerja profesional, seperti analis hukum, programmer tingkat awal hingga menengah, analis riset pasar, maupun spesialis keuangan.

Dengan memanfaatkan AI, sejumlah perusahaan menilai produktivitas tetap dapat dipertahankan meski jumlah karyawan dikurangi. Akibatnya, persaingan mendapatkan pekerjaan di level profesional pun menjadi semakin ketat.

Kepala Eksekutif Janco Associates, Victor Janulaitis, mengatakan banyak perusahaan masih menahan perekrutan tenaga IT karena ketidakpastian ekonomi.

"Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ujar Janulaitis, dikutip dari The Wall Street Journal pada Senin (6/7/2026). 

Beban Finansial Pekerja Bergaji Tinggi

PHK terhadap pekerja bergaji tinggi juga membawa tantangan tersendiri. Berbeda dengan pekerja lain, kelompok profesional ini umumnya memiliki pengeluaran yang menyesuaikan besarnya pendapatan, seperti cicilan rumah, kendaraan, hingga biaya pendidikan anak.

Ketika kehilangan pekerjaan, mereka sering mengalami lifestyle inflation shock, yakni kesulitan menyesuaikan gaya hidup dengan kondisi keuangan yang berubah drastis.

Di sisi lain, proses mencari pekerjaan baru juga tidak selalu mudah. Banyak perusahaan yang sedang melakukan efisiensi cenderung menghindari kandidat dengan pengalaman tinggi karena dianggap memiliki ekspektasi gaji yang lebih besar.

Oleh karena itu, sejumlah pengamat ketenagakerjaan menilai para profesional kini perlu meningkatkan keterampilan (reskilling), memperluas kompetensi, atau bahkan bersedia menerima penyesuaian gaji agar tetap kompetitif di pasar kerja yang semakin dinamis.