Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyoroti persoalan pemungutan pajak di Indonesia yang dinilainya belum menyentuh sumber-sumber kebocoran penerimaan negara terbesar.
Bhima menilai, pemerintah seharusnya lebih serius mengejar potensi pajak dari perusahaan besar dan sektor sumber daya alam ketimbang membebani pelaku usaha kecil, seperti tukang cukur.
Bhima menegaskan, anggapan bahwa tukang cukur tidak berkontribusi terhadap penerimaan pajak merupakan pandangan yang keliru. Sebab, aktivitas usaha mereka sebenarnya sudah bersinggungan dengan berbagai jenis pajak, baik melalui pembelian peralatan maupun kebutuhan operasional sehari-hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Bhima dalam sebuah video yang dikutip dari akun Instagram @kabinetbayangan.id, Jumat (6/11/2026).
Bhima lantas mencontohkan, peralatan yang digunakan tukang cukur, seperti gunting, sudah dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Begitu pula dengan bahan bakar kendaraan yang digunakan untuk mobilitas menuju tempat kerja atau mendatangi pelanggan.
"Kalau tukang cukur dianggap nggak bayar pajak, itu salah besar. Karena sebenarnya, gunting cukurnya aja itu udah dikenakan PPN 11%. Belum, bensinnya dia dari mulai rumah atau klien lain, customer lain, ke tempatnya Pak Hasim. Itu juga bensinnya kena pajak," kata Bhima.
Menurut Bhima, pemerintah perlu memahami bahwa besarnya aktivitas ekonomi bawah tanah atau underground economy di Indonesia tidak serta-merta berarti seluruh pelakunya harus menjadi sasaran pemajakan langsung.
Bhima menyebut, pemungutan pajak terhadap usaha mikro dan kecil justru berpotensi menimbulkan biaya administrasi yang tidak sebanding dengan penerimaan yang diperoleh negara. Selain itu, pemerintah seharusnya lebih selektif dalam menentukan kelompok atau sektor yang menjadi prioritas pengawasan perpajakan.
"Jadi please, masalah pajak ini yang harus dilihat, underground ekonomi Indonesia itu besar. Tapi bukan berarti semuanya bisa dipajakin," bebernya.
Baca Juga: Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Ini Bahaya Batu Bara bagi Ekonomi Menurut Bhima Yudhistira