Growthmates, tidak sedikit perempuan yang kini menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Ada yang memang sejak awal menjadi breadwinner, tetapi tidak sedikit pula yang mengalaminya karena perubahan kondisi, seperti suami terkena PHK, memutuskan beralih karier, atau berhenti bekerja untuk sementara.
Menurut Certified Financial Planner, Annisa Steviani, kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang harus dianggap sebagai beban atau sumber gengsi.Yang terpenting, kata Annisa, adalah bagaimana pasangan mampu bekerja sama dan mengelola kondisi tersebut dengan sehat, baik secara finansial maupun emosional.
Lebih lanjut, Annisa membagikan tiga prinsip penting yang perlu dimiliki perempuan ketika berada dalam posisi sebagai tulang punggung keluarga.
Adapun, hal pertama yang harus dipastikan adalah penghasilan benar-benar mencukupi kebutuhan rumah tangga. Menurutnya, perencanaan keuangan tidak bisa dibangun hanya berdasarkan harapan atau rasa optimistis semata.
"Yang pertama adalah tetap memastikan gajinya cukup dulu. Karena kalau enggak cukup, ya gimana? Hitungan finansial enggak bisa bohong. Mau diusahakan seirit apa pun, kalau memang enggak cukup ya memang enggak cukup," terang Annisa, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @qm_financial, Kamis (2/7/2026).
Karena itu, kata Annisa, sebelum memikul tanggung jawab sebagai pencari nafkah utama, penting untuk menghitung secara realistis seluruh kebutuhan keluarga dan memastikan pemasukan benar-benar mampu menutup pengeluaran.
Selain memastikan pendapatan cukup, Annisa mengingatkan agar perempuan tidak menuntut pasangan harus selalu menghasilkan uang seperti sebelumnya. Menurutnya, kontribusi dalam rumah tangga tidak selalu berbentuk materi.
Ia mencontohkan, ketika suami tidak bekerja, bukan berarti ia berhenti memberikan nilai bagi keluarga. Peran mengurus rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga mendampingi anak juga merupakan bentuk kontribusi yang sama pentingnya.
"Gak menuntut si suami harus berpenghasilan seperti semula selama dia berkontribusi juga dalam bentuk lain di keluarga. Kontribusinya enggak mesti dalam bentuk uang. Orang sering mikir kontribusi itu harus uang, padahal enggak juga. Kalau rumah bersih, anak keurus, antar-jemput sekolah dan les aman, menurut aku itu juga enggak masalah," jelasnya.
Baca Juga: Pasangan Sama-sama Sandwich Generation? Lakukan 3 Langkah Ini agar Keuangan Tetap Sehat