Menurut Annisa, yang paling penting adalah pasangan memiliki kesepakatan mengenai pembagian peran sehingga masing-masing tetap merasa memiliki kontribusi terhadap keluarga.

Selanjutnya, prinsip terakhir adalah memandang kondisi tersebut sebagai tanggung jawab bersama, bukan pencapaian salah satu pihak.

Annisa mengaku dirinya tidak pernah merasa lebih hebat ketika harus mengambil alih peran sebagai pencari nafkah utama.

Baginya, hal itu dapat terjadi karena selama berkarier ia selalu mendapat dukungan penuh dari pasangan.

"Perasaan bahwa ini tuh sama-sama. Jadi kenapa aku harus merasa, 'Wah keren banget jadi tulang punggung?' Ah biasa aja. Selama aku bekerja pun kan enggak pernah dihalang-halangi untuk berkarier, enggak pernah dihalang-halangi untuk berkembang. Jadi ketika ada kondisi dia harus berhenti kerja, ya aku bisa take over sementara dan ternyata enggak apa-apa juga," katanya.

Annisa menilai, banyak suami sebenarnya memikul tekanan yang sangat besar akibat konstruksi sosial yang menganggap laki-laki harus selalu menjadi pencari nafkah utama.

Ketika kehilangan pekerjaan atau ingin berpindah karier, lanjut dia, mereka sering merasa gagal karena menganggap seluruh beban keluarga ada di pundaknya.

Padahal, menurutnya, pola pikir tersebut justru merugikan kedua belah pihak.

"Banyak suami yang sebenarnya sudah capek, pengin switching career atau kena PHK, tapi istrinya enggak ada di posisi yang bisa menghasilkan uang. Akhirnya dia terpaksa pegang bebannya sendiri. Ini sebenarnya suami korban patriarki. Dia merasa harus menanggung semua bebannya sendirian, padahal enggak perlu," tutup Annisa.

Baca Juga: Bukan Sekadar Punya Banyak Uang, Ini Tanda Keuangan Anda Sudah Aman Menurut Financial Planner