Menjadi sandwich generation bukan hanya menuntut seseorang untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga membantu membiayai orang tua, bahkan terkadang saudara. Tantangan akan terasa lebih besar ketika suami dan istri sama-sama berada di posisi tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, mengatur keuangan keluarga menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Penghasilan sering kali habis untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehingga pasangan merasa kesulitan menabung, membatasi gaya hidup, hingga harus mencari penghasilan tambahan demi mencukupi semua tanggung jawab finansial.

Menurut FDV Wulansari, selaku Financial Trainer QM Financial, langkah pertama yang harus dilakukan pasangan yang sama-sama menjadi sandwich generation adalah menerima kondisi keuangan yang sedang dijalani.

"Terima dulu kenyataannya bahwa saat ini kita belum bisa terlalu maksimal untuk menabung atau apa pun. Nggak apa-apa, terima kondisinya," ungkap Wulan, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @qm_financial, Rabu (1/7/2026).

Lebih lanjut, Wulan memahami bahwa banyak pasangan merasa lelah karena harus bekerja lebih keras untuk membantu orang tua, kakak, maupun adik.

Namun, kata dia, menerima kondisi saat ini bukan berarti menyerah. Justru dari titik itulah pasangan bisa mulai menyusun strategi keuangan yang lebih sehat.

Wulan menekankan bahwa membantu keluarga juga perlu memiliki batas yang jelas.

Menurutnya, prioritas utama adalah membantu anggota keluarga yang benar-benar membutuhkan, bukan mereka yang sebenarnya sudah mampu mandiri secara finansial.

"Kalau kondisinya orang tua memang tidak punya penghasilan, ya kita memang bantu. Tapi kalau adik ternyata sudah berpenghasilan, ya seharusnya tidak harus kita bantu lagi. Begitu juga kakak, kalau sudah menikah dan punya penghasilan, mestinya sudah mandiri. Kecuali memang sedang sakit atau tidak bisa bekerja, itu tentu berbeda," jelasnya.

Baca Juga: Financial Planner Ungkap Siapa Sebenarnya Generasi Sandwich, Ternyata Bukan Hanya Anak Muda