Theo kemudian membagikan pengalamannya sendiri. Hubungan yang awalnya hanya sebatas saling mengenal ternyata baru berkembang menjadi kerja sama bisnis beberapa tahun kemudian.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa membangun relasi membutuhkan kesabaran dan konsistensi.

"Kita ketemu partner kita yang di agency, kenal dulu, tiga tahun berikutnya baru jadi agency. Butuh waktu," ungkap Theo.

Theo juga menilai, anggapan bahwa networking berlebihan atau tidak penting biasanya datang dari orang-orang yang sudah memiliki privilese, seperti jaringan yang luas atau latar belakang keluarga yang mendukung.

Berbeda dengan para perintis bisnis yang memulai dari nol, kata dia, membangun relasi menjadi salah satu aset paling berharga.

"Menurut gue, networking itu overrated buat lo yang memang sudah punya keluarga, berprivilege di mana orang mau networking sama lo. Kalau lo perintis kayak gue, nggak ada backup, nggak ada siapa-siapa, ya cari, Pak," jelasnya.

Karena itulah, pada awal merintis usaha, Theo dan rekannya secara rutin meluangkan waktu untuk bertemu banyak orang setiap minggu. Namun, mereka datang bukan dengan tujuan menjual produk atau menawarkan kerja sama, melainkan membangun hubungan yang tulus.

"Dulu kita setiap minggu dua sampai tiga kali ketemu orang. Cuma tujuan kita bangun relasi, bukan transaksi," tutup Theo.

Baca Juga: Cara Menambah Kekayaan Secara Bertahap ala Theo Derick