Pernahkah Anda menyadari kebiasaan membuka dan menonton ulang Instagram Stories sendiri berkali-kali sebelum konten tersebut menghilang dalam 24 jam? Jika iya, Anda tidak sendirian.

Sejumlah pengguna media sosial, termasuk konten kreator, mengaku memiliki kebiasaan serupa. Alih-alih hanya menunggu Stories menghilang, mereka justru beberapa kali kembali membuka unggahan sendiri untuk melihat tampilannya.

Kebiasaan ini ternyata tidak selalu sekadar iseng. Psikoterapis Eloise Skinner menyebut perilaku tersebut dapat dikaitkan dengan istilah self-stalking, yaitu kecenderungan seseorang mengamati kembali jejak digitalnya sendiri di media sosial.

Lantas, mengapa seseorang bisa begitu sering melihat Stories miliknya sendiri?

Ingin Tahu Bagaimana Orang Lain Melihat Diri Kita

Salah satu alasannya berkaitan dengan keinginan manusia untuk mengetahui bagaimana dirinya dipandang oleh orang lain.

Skinner menjelaskan bahwa kita tidak pernah benar-benar bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain tentang diri kita. Karena itu, unggahan di media sosial terkadang menjadi cara untuk membayangkan bagaimana orang lain melihat kita.

Baca Juga: Tahukah Kamu, dari Mana Asal Kata 'Viral'?

Menonton ulang Stories seolah memberi kesempatan untuk melihat diri sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Seseorang dapat memperhatikan kembali foto, video, gaya bicara, hingga ekspresi yang ditampilkan dan membayangkan kesan yang mungkin diterima oleh orang lain.

Dengan kata lain, media sosial dapat menjadi semacam "cermin digital" untuk mengevaluasi bagaimana seseorang menampilkan dirinya kepada publik.

Bisa Berkaitan dengan Perfeksionisme

Kebiasaan mengecek Stories berulang kali juga dapat berkaitan dengan sifat perfeksionis.

Sebagian orang ingin memastikan konten yang mereka unggah terlihat sesuai dengan ekspektasi. Hal ini terutama mungkin terjadi ketika media sosial tidak hanya digunakan untuk berbagi kehidupan pribadi, tetapi juga menjadi portofolio digital untuk pekerjaan, kolaborasi, atau membangun personal branding.

Baca Juga: Tahukah Kamu? Bukan Cuma Buat Ngaca, Ini Alasan Kenapa Ada Cermin Besar di Dalam Lift

Karena itu, membuka kembali Stories dapat menjadi cara untuk memeriksa apakah tulisan, foto, video, musik, atau elemen lain yang digunakan sudah terlihat sesuai dengan yang diinginkan.

Bagi orang yang sangat memperhatikan detail, satu unggahan bahkan bisa diperiksa berkali-kali untuk memastikan tidak ada sesuatu yang dianggap kurang tepat.

Bisa Muncul dari Rasa Tidak Percaya Diri

Di sisi lain, kebiasaan melihat unggahan sendiri juga dapat berkaitan dengan rasa tidak percaya diri.

Seseorang yang merasa kurang yakin terhadap dirinya sendiri mungkin lebih sering mengevaluasi bagaimana dirinya terlihat di media sosial. Ia bisa memperhatikan bagian-bagian tertentu dari penampilannya, respons orang lain, hingga jumlah orang yang melihat atau berinteraksi dengan Stories tersebut.

Skinner menjelaskan bahwa perilaku tersebut dapat menjadi cara seseorang mencari tahu apa yang disukai atau tidak disukai dari dirinya sendiri. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini justru berpotensi mendorong seseorang semakin sering membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial.

Baca Juga: Tahukah Kamu: Kenapa Tulisan Dokter Sering Susah Dibaca?

Sebenarnya Hal yang Normal

Meski terdengar tidak biasa, melihat kembali konten yang dibuat sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang selalu perlu dikhawatirkan.

Skinner mengibaratkan kebiasaan tersebut seperti membuka kembali album foto lama atau membaca jurnal pribadi. Bedanya, di era digital, media sosial telah menjadi semacam arsip yang menyimpan berbagai potongan kehidupan seseorang.

Melihat kembali unggahan sendiri bisa menjadi bentuk nostalgia, evaluasi diri, atau sekadar memastikan seperti apa konten tersebut terlihat setelah dipublikasikan.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi perasaan seseorang.

Jika menonton ulang Stories membuat Anda merasa senang, bernostalgia, atau sekadar ingin melihat kembali momen yang pernah dibagikan, hal tersebut pada dasarnya tidak menjadi persoalan.

Namun, jika kebiasaan tersebut justru membuat Anda terus-menerus mengkritik penampilan, merasa tidak cukup baik, atau terlalu memikirkan bagaimana orang lain menilai diri Anda, mungkin sudah waktunya untuk mengurangi kebiasaan tersebut.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sering menonton ulang Instagram Stories sendiri tidak selalu berarti seseorang terlalu narsis atau terobsesi dengan media sosial. Di baliknya bisa terdapat kebutuhan yang sangat manusiawi: ingin memahami bagaimana diri kita terlihat di mata orang lain.