Pernah menerima resep dari dokter lalu kebingungan membaca tulisan di dalamnya? Bagi sebagian orang, tulisan dokter memang identik dengan coretan yang sulit dikenali. Tak jarang, pasien bahkan harus meminta bantuan apoteker untuk mengetahui nama obat atau aturan penggunaannya.
Fenomena tulisan dokter yang sulit dibaca bukan sekadar lelucon yang beredar di masyarakat. Dalam praktik medis, dokter dituntut mencatat berbagai informasi dalam waktu terbatas, mulai dari hasil pemeriksaan, diagnosis, hingga instruksi pengobatan dan resep.
Lantas, mengapa tulisan dokter sering terlihat seperti coretan?
Dituntut Menulis dengan Cepat
Salah satu faktor yang kerap dikaitkan dengan tulisan dokter yang sulit dibaca adalah tuntutan pekerjaan. Dokter harus mencatat berbagai informasi medis sambil menangani pasien dalam jumlah yang tidak sedikit.
Dalam kondisi tersebut, kecepatan mencatat bisa menjadi lebih diprioritaskan daripada kerapian tulisan. Semakin banyak pasien yang harus ditangani, semakin besar pula kebutuhan dokter untuk menyelesaikan dokumentasi dalam waktu singkat.
Baca Juga: Dokter: Tubuh Bukan Pinjol, Makan Gorengan Tak Bisa Dibayar dengan Olahraga
Hal tersebut juga dijelaskan Selly, direktur medis di Paradox Worldwide, melalui akun TikTok Ems n Hums yang dikutip Selasa (11/08/2026). Menurutnya, hampir seluruh proses dalam dunia medis membutuhkan pencatatan, mulai dari pemeriksaan pasien hingga penulisan resep. Kondisi tersebut membuat dokter dituntut bekerja secara efisien, termasuk ketika mencatat informasi medis.
Temuan serupa dibahas dalam artikel What's Wrong with Doctors' Handwriting? yang dipublikasikan The National Medical Journal of India. Banyaknya pasien yang harus ditangani serta catatan dan resep yang perlu ditulis dalam waktu singkat disebut sebagai salah satu alasan umum tulisan tangan dokter sulit dibaca.
Persoalan tersebut juga didukung oleh penelitian yang dikutip Medscape. Studi yang menganalisis catatan medis tulisan tangan dari berbagai spesialisasi, mulai dari kedokteran umum, kardiologi, gastroenterologi hingga bedah, menemukan sekitar 15% catatan sebagian atau seluruhnya tidak terbaca.
Dalam penelitian itu, catatan dokter bedah memiliki tingkat keterbacaan paling rendah. Artinya, tulisan yang terlihat seperti coretan dapat berkaitan dengan tuntutan pekerjaan dan keterbatasan waktu yang dimiliki dokter.
Ada Istilah dan Singkatan Medis
Faktor lain yang membuat tulisan dokter terlihat sulit dipahami adalah penggunaan istilah dan singkatan medis.
Baca Juga: Terlalu Banyak Gula Tanpa Olahraga? Ini Peringatan Dokter Tirta
Dalam resep maupun catatan medis, dokter dapat menggunakan istilah tertentu yang sudah umum dipahami tenaga kesehatan. Karena itu, tulisan atau simbol yang terlihat asing bagi pasien belum tentu asing bagi dokter, perawat, atau apoteker yang terbiasa berhadapan dengan istilah tersebut.
Selly menjelaskan, sejumlah tulisan yang tampak tidak jelas bagi masyarakat awam sebenarnya merupakan kode atau istilah yang biasa digunakan tenaga medis dan apoteker.
Namun, bukan berarti tenaga kesehatan boleh menebak ketika menemukan tulisan yang tidak jelas. Apabila ada bagian yang tidak dipahami, tenaga kesehatan perlu menghubungi dokter atau perawat yang menulisnya untuk memastikan maksudnya.
Penggunaan singkatan dalam catatan medis juga perlu dilakukan secara hati-hati. Sebuah kajian ilmiah yang tersedia melalui National Center for Biotechnology Information (NCBI/PMC) menunjukkan bahwa tulisan tangan yang tidak jelas, termasuk penggunaan singkatan dan simbol, dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keselamatan pasien dan berpotensi menyebabkan hasil klinis yang merugikan.
Jadi, tulisan dokter tidak selalu sulit dibaca karena sengaja dibuat demikian. Sebagian catatan medis memang menggunakan bahasa dan istilah khusus yang tidak familiar bagi masyarakat umum.
Mengapa Apoteker Bisa Membacanya?
Lalu, bagaimana perawat atau apoteker bisa memahami tulisan yang bagi pasien terlihat seperti kode rahasia?
Salah satu faktornya adalah pengalaman dan kebiasaan. Tenaga kesehatan terbiasa berhadapan dengan resep serta catatan medis sehingga lebih familiar dengan istilah, pola tulisan, dan konteks pengobatan yang digunakan dokter.
Meski demikian, bukan berarti semua tulisan dokter selalu dapat dibaca dengan mudah oleh tenaga kesehatan.
Sebuah penelitian di National District Hospital, Bloemfontein, yang dimuat dalam jurnal South African Family Practice, menguji 300 resep. Hasilnya, dokter berhasil membaca dengan benar sebanyak 88% resep, perawat 82%, dan apoteker 75%.
Baca Juga: Memaksakan Olahraga saat Sakit Bisa Berbahaya, Ini Penjelasan Dokter Tirta
Temuan tersebut menunjukkan tingkat keterbacaan resep dapat berbeda-beda di antara tenaga kesehatan. Bahkan, tenaga kesehatan yang terbiasa membaca resep pun tetap berpotensi mengalami kesalahan dalam menafsirkan tulisan.
Karena itu, ketika terdapat bagian resep yang tidak jelas, tenaga kesehatan perlu melakukan konfirmasi kepada dokter. Menebak maksud tulisan bukanlah langkah yang tepat, terutama jika menyangkut nama obat, dosis, atau aturan penggunaannya.
Tulisan Resep yang Sulit Dibaca Bisa Berisiko
Di balik fenomena yang sering dianggap lucu, tulisan resep yang tidak terbaca sebenarnya dapat menjadi persoalan serius.
Resep merupakan bagian penting dalam proses pemberian obat. Kesalahan membaca nama obat, dosis, maupun aturan penggunaan dapat berdampak pada keselamatan pasien.
ScienceDaily, yang merujuk pada penelitian University of Minnesota, melaporkan bahwa tulisan tangan yang tidak terbaca dan kesalahan transkripsi berkaitan dengan sekitar 61% kesalahan pengobatan di rumah sakit.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa rumah sakit di Amerika Serikat yang beralih menggunakan sistem peresepan elektronik atau computerized physician order entry berhasil menekan kesalahan resep hingga 66%.
Temuan ini menunjukkan bahwa keterbacaan informasi medis bukan sekadar persoalan estetika tulisan. Kejelasan informasi menjadi bagian penting dalam mencegah kesalahan pengobatan.
Karena itu, proses verifikasi oleh tenaga kesehatan menjadi sangat penting ketika terdapat tulisan atau instruksi medis yang meragukan.
Resep Digital Mulai Mengurangi Ketergantungan pada Tulisan Tangan
Kendati demikian, perkembangan teknologi turut mengubah kebiasaan dokter dalam mencatat informasi medis dan membuat resep.
Jika sebelumnya banyak informasi dicatat secara manual, kini semakin banyak fasilitas kesehatan menggunakan sistem komputer untuk memasukkan data pasien dan membuat resep secara elektronik.
Selly menyebut banyak dokter saat ini sudah tidak terlalu sering menulis tangan karena data pasien maupun resep dapat langsung dimasukkan melalui komputer.
Sistem digital dapat membantu mengurangi persoalan keterbacaan karena informasi diketik dan ditampilkan dalam format yang lebih mudah dibaca.
Meski demikian, resep tulisan tangan masih cukup banyak ditemukan. Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Expert Review of Clinical Pharmacology menunjukkan bahwa resep manual masih digunakan meski penggunaan resep elektronik terus berkembang. Persoalan keterbacaan tulisan dokter pun masih ditemukan di berbagai negara.
Jadi, Kenapa Tulisan Dokter Susah Dibaca?
Anggapan bahwa "tulisan dokter pasti jelek" sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Ada dokter yang memiliki tulisan rapi, tetapi ada pula yang tulisannya sulit dibaca.
Kecepatan mencatat, beban pekerjaan, kebiasaan menulis, serta penggunaan istilah dan singkatan medis dapat menjadi sejumlah faktor yang menjelaskan mengapa tulisan dokter terkadang sulit dipahami.
Namun, dalam konteks resep dan instruksi medis, persoalan utamanya bukan apakah tulisan tersebut indah atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap informasi dapat dibaca dan dipahami dengan benar.
Sebab, ketika menyangkut obat dan perawatan pasien, satu tulisan yang salah dibaca bisa berujung pada kesalahan yang serius.