Selama bertahun-tahun, diet rendah lemak kerap dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan jantung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa diet Mediterania justru memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap risiko penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition dan mengulas hubungan antara pola makan dengan risiko penyakit jantung selama 20 tahun. Penelitian menggunakan data dari dua studi kesehatan besar di Amerika Serikat, yakni Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study.

Baca Juga: Obesitas Jadi Pemicu Diabetes, Wamenkes: Diet Saja Belum Cukup, Perlu Inovasi Obat

Dalam riset yang dikutip Olenka pada Jumat (10/07/2026), peneliti membandingkan tiga pola makan, yaitu diet Mediterania, pola makan berdasarkan pedoman American Heart Association (AHA) 2020, serta diet rendah lemak. Analisis dilakukan menggunakan metode target trial emulation, yakni pendekatan yang memanfaatkan data observasional untuk mensimulasikan hasil uji klinis.

Hasilnya menunjukkan bahwa diet Mediterania menjadi pola makan yang paling efektif dalam menekan risiko penyakit kardiovaskular, terutama pada orang yang memiliki risiko tinggi mengalami penyakit jantung.

Pada kelompok tersebut, estimasi risiko penyakit kardiovaskular selama 20 tahun mencapai 35,9 persen bagi mereka yang menjalani diet rendah lemak. Sementara itu, risiko turun menjadi 31,2 persen pada kelompok yang mengikuti pedoman AHA dan hanya 28,2 persen pada mereka yang menerapkan diet Mediterania.

Baca Juga: Ahli Jantung Ungkap 7 Tips Diet saat Cuaca Panas agar Jantung Tetap Optimal

Tak hanya itu, kedua pola makan yang lebih menekankan kualitas nutrisi tersebut juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner, kematian akibat penyakit kardiovaskular, hingga kematian karena berbagai penyebab. Namun, peneliti tidak menemukan penurunan risiko stroke yang signifikan.

Apa itu diet Mediterania?

Diet Mediterania merupakan pola makan yang terinspirasi dari kebiasaan masyarakat di kawasan Laut Mediterania. Pola makan ini mengutamakan konsumsi makanan alami seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, polong-polongan, ikan, serta minyak zaitun sebagai sumber lemak utama.

Sebaliknya, diet rendah lemak lebih berfokus pada pembatasan konsumsi makanan berlemak, termasuk gorengan, minyak, ikan berlemak, hingga kacang-kacangan tertentu.

Baca Juga: 7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Usus yang Bisa Anda Tambahkan ke Diet di Tahun 2026

Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa kualitas makanan yang dikonsumsi lebih penting dibanding sekadar mengurangi asupan lemak. Dengan kata lain, memilih sumber lemak sehat dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesehatan jantung daripada hanya menghindari lemak secara umum.

Tetap Memiliki Keterbatasan

Meski hasilnya menjanjikan, peneliti mengingatkan bahwa studi ini merupakan penelitian observasional sehingga hanya menunjukkan hubungan antara pola makan dan risiko penyakit, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Selain itu, data pola makan diperoleh dari laporan para peserta sehingga masih berpotensi terjadi kesalahan pencatatan. Mayoritas responden juga merupakan tenaga kesehatan berkulit putih di Amerika Serikat sehingga hasil penelitian belum tentu dapat langsung diterapkan pada seluruh populasi di berbagai negara.

Meski demikian, temuan ini memperkuat semakin banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pola makan kaya sayuran, buah, ikan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta minyak zaitun dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular.