Nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatan dengan bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS. Mengutip Bloomberg, rupiah menguat 0,52% ke level Rp17.965 per dolar AS di pasar spot pada perdagangan Rabu (10/6/2026) siang.
Pergerakan rupiah yang akhirnya lepas dari tekanan dolar AS menjadi angin segar terhadap pasar keuangan domestik. Terlebih lagi, dalam waktu kurang dari dua hari depresiasi rupiah dapat diredam dari kisaran Rp18.200 hingga ke bawah Rp18.000 per dolar AS.
Di tengah sentimen positif tersebut, publik kembali dihadapkan pada situasi sulit, yakni kenaikan harga BBM secara tiba-tiba. Sebagaimana diketahui, Pertamina Patra Niaga resmi mengumumkan kenaikan harga BBM enis Pertamax dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan harga BBM juga berlaku untuk jenis Pertamax Green yakni dari harga Rp12.900 menjadi Rp17.000 per dolar AS.
Kondisi demikian turut menjadi sorotan bagi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Sekretaris Eksekutif YLKI, Rio Priambodo, menilai bahwa pengumuman kenaikan harga BBM dilakukan secara mendadak tanpa pemberitahuan yang memadai kepada masyarakat. Padahal, BBM merupakan produk yang digunakan secara luas dan berdampak terhadap pengeluaran rumah tangga.
"Perubahan harga BBM seharusnya disampaikan secara lebih transparan dan memberikan waktu yang cukup bagi konsumen untuk menyesuaikan keputusan ekonominya," tegas Rio dalam keterangan resmi yang diterima Olenka, Rabu (10/6/2026).
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menilai bahwa kenaikan harga Pertamax mendorong konsumen untuk beralih ke Pertalite. Dengan begitu, lonjakan permintaan Pertalite akan terjadi dan berujung pada antrean panjang, pembatasan distribusi, hingga kelangkaan BBM di sejumlah wilayah.
"Jangan sampai masyarakat yang memang berhak memperoleh BBM subsidi justru menjadi pihak yang paling dirugikan," tambahnya.