Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax masih belum mengalami perubahan. Sampai sekarang harga salah satu jenis BBM non subsidi itu masih di Rp16.000 per liter bahkan untuk harga Pertamax Turbo tetap dipasarkan Rp 20.750 per liter kendati harga minyak dunia mulai melandai seiring meredanya ketegangan geopolitik belakangan ini.

Kendati belum ada tanda-tanda penurunan harga Pertamax, namun peluang melandasinya harga BBM itu terbuka lebar jika tren penurunan harga minyak dunia tetap konsisten dan pasokan global tetap terjaga.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Bilang Harga Pertamax Segera Turun, Harapan atau Kenyataan?

“Berdasarkan informasi pada 2027, oversupply terhadap minyak mentah ini akan membuat harga minyak secara internasional itu di US$ 60 sampai dengan US$ 70 per barrel,” kata Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi Selasa (23/6/2026).

Menurut Ibrahim, apabila perkiraan harga minyak dunia itu terus melandai, maka kemungkinan besar harga BBM nonsubsidi ikut disesuaikan pemerintah. Perkiraannya penyesuaian harga itu sudah bisa direalisasikan pada Juli 2026 mendatang.

“Nah ini yang akan membuat harga BBM nonsubsidi, seperti jenis Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 kemudian Pertamax Turbo 98 dan lainnya kemungkinan besar awal Juli akan diturunkan,” tambahnya.

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026. Pertamax RON 92 naik menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Sementara Pertamax Green 95 meningkat menjadi Rp 17.000 per liter dari Rp 12.900 per liter.

Adapun Pertamax Turbo tetap dipasarkan Rp 20.750 per liter. Untuk jenis solar nonsubsidi, Pertamina Dex bertahan di Rp 24.800 per liter dan Dexlite Rp 23.000 per liter.

Ibrahim menilai penurunan harga BBM nonsubsidi akan memberikan dampak positif terhadap daya beli masyarakat.

Baca Juga: Pendapatan Kuartal Pertama NFCX 2026 Turun 37% dari Tahun 2025

"Selain membantu menekan biaya transportasi dan distribusi, langkah tersebut juga berpotensi mendukung aktivitas ekonomi menjelang pengumuman data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 pada Juli mendatang," pungkas Ibrahim.