Tak hanya itu, kata dia, kurang tidur juga membuat tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin. Akibatnya, glukosa yang berada di dalam aliran darah lebih sulit masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.
"Kurang tidur juga nurunin sensitivitas insulin, jadi glukosa yang beredar di darah lebih sulit masuk ke sel," kata dr. Nadhira.
Penyebab kedua, lanjut dr. Nadhira, adalah kesalahan persepsi mengenai makanan manis. Banyak orang merasa tidak mengonsumsi gula karena menghindari minuman manis atau kue, padahal mereka tetap mengonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat sederhana.
Menurut dr. Nadhira, sumber karbohidrat tidak selalu memiliki rasa manis.
"Ngerasanya nggak makan manis. Padahal sumber karbo itu nggak selalu kerasa manis. Banyak yang rasanya asin atau gurih, padahal tetap aja tinggi karbo sederhana," ujarnya.
dr. Nadhira pun mencontohkan sejumlah makanan yang sering dianggap sebagai camilan biasa, tetapi sebenarnya mengandung karbohidrat sederhana dalam jumlah tinggi, seperti bakwan, cireng, risol, pastel, batagor, seblak, kerupuk, emping, hingga saus botolan.
Karena itu, dr. Nadhira mengingatkan bahwa diabetes tidak selalu identik dengan kebiasaan mengonsumsi es krim, kue, atau makanan penutup. Pola tidur yang buruk dan konsumsi karbohidrat sederhana secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.
"Jadi diabetes itu nggak selalu di orang-orang yang kelihatan sering makan es krim atau makan kue. Bisa juga terjadi di kita-kita yang nggak nyadar," tutup dr. Nadhira.
Baca Juga: Dokter Gizi Ungkap Bahaya Skinny Fat, Risikonya Bisa Lebih Tinggi dari Obesitas