Bentol-bentol pada kulit atau biduran sering kali dianggap sepele. Namun, menurut dokter sekaligus entrepreneur, Tirta Mandira Hudhi, kondisi ini bisa menjadi tanda bahaya jika disertai gejala tertentu, terutama sesak napas.

Dalam penjelasannya, Dokter Tirta menegaskan bahwa biduran yang muncul bersama gangguan pernapasan dapat mengarah pada kondisi medis serius yang disebut syok anafilaksis.

“Bentol-bentol atau biduran bisa jadi tanda kondisi serius kalau disertai dengan sesak napas. Ini faktanya. Bisa disebut shock anaphylactic,” papar dokter Tirta, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (14/4/2026).

Lebih lanjut, untuk mempermudah pemahaman, Dokter Tirta mengibaratkan sistem imun manusia seperti sistem identifikasi dengan ‘barcode’.

“Setiap sel itu punya ‘ID card’, punya barcode di dalam tubuh kita. Kalau ada sesuatu yang masuk dan dikenali, ya tubuh nggak bereaksi apa-apa,” jelasnya.

Masalah muncul ketika tubuh menemukan zat yang tidak dikenali. Dalam kondisi tersebut, sistem imun akan menganggapnya sebagai ancaman dan langsung menyerang.

“Kalau tubuh kita nggak punya ‘database barcode’ tersebut, misalnya alergi kepiting, lalu kita makan dalam jumlah banyak, tubuh menganggap itu asing. Diseranglah,” katanya.

Serangan ini bisa memicu reaksi sistemik, mulai dari gatal-gatal dan bentol di seluruh tubuh hingga kondisi yang lebih berbahaya.

Dokter Tirta melanjutkan, reaksi alergi berat tidak berhenti di kulit. Dalam kasus tertentu, dapat berkembang menjadi kondisi darurat.

“Efek penyerangannya itu menyebabkan reaksi sistemik. Bentol-bentol seluruh tubuh, gatal-gatal, sampai akhirnya yang paling parah reaksi gagal napas dan penurunan tekanan darah yang sangat masif,” jelas Dokter Tirta.

Baca Juga: Bolehkah Penderita GERD Menjalani Intermittent Fasting? Ini Penjelasan Dokter Tirta