Pritta juga menekankan pentingnya mendampingi anak selama menjalani proses tersebut. Orang tua tidak cukup hanya memberikan target, tetapi perlu membantu anak mengevaluasi strategi yang sudah dilakukan dan mencari cara lain jika upaya sebelumnya belum memberikan hasil yang diharapkan.
“Bantu anak untuk membuat rencana, harus latihan apa saja, berapa kali, berapa lama, dan dampingi dalam setiap prosesnya. Jangan lupa juga ya, evaluasi strateginya bersama dengan anak,” tuturnya.
Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah membantu anak menghadapi perasaan tidak mampu atau merasa dirinya kurang baik ketika mengalami kegagalan.
Perasaan tersebut bisa muncul ketika anak kalah dalam kompetisi, tidak berhasil menyelesaikan tugas, atau belum mampu melakukan sesuatu sesuai harapannya. Dalam situasi seperti ini, anak mungkin merasa cemas, kecewa, atau meragukan kemampuannya sendiri.
Menurut Pritta, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa perasaan cemas dan merasa kurang mampu merupakan hal yang wajar. Alih-alih langsung mengkritik atau menuntut anak agar segera bangkit, orang tua dapat terlebih dahulu menerima perasaan yang sedang dialaminya.
“Pastikan ada rasa kayak, ‘Aku kurang deh,’ ada rasa cemas. Nah, itu yang bisa kita lakukan adalah bantu anak untuk, oke, cemas wajar, kamu merasa kurang baik wajar,” ungkap Pritta.
Setelah membantu anak menerima perasaannya, kata pritta, orang tua dapat mengajaknya mengingat kembali keberhasilan yang pernah diraih. Misalnya, keberanian yang pernah ditunjukkan, keterampilan yang sudah berhasil dikuasai, atau kemajuan yang dicapai setelah melewati proses latihan.
Menurutnya, mengingat pengalaman positif tersebut dapat membantu anak melihat bahwa satu kegagalan tidak serta-merta menghapus kemampuan dan keberhasilan yang telah dimilikinya.
Pritta menjelaskan, mengingat kembali pencapaian dan keberanian anak dapat menjadi bekal untuk membantunya bangkit serta kembali mencoba menghadapi tantangan berikutnya.
“Bantu anak mengingat keberhasilan-keberhasilan yang sudah pernah dia dapatkan sebelumnya. Keberaniannya dia, skill yang sudah berhasil dia kuasai, ini berguna untuk membuat anak bangkit lagi dan mau terus mencoba sesuatu yang ada di depan dia,” tandasnya.
Baca Juga: Anak Remaja Lebih Suka Curhat ke AI, Psikolog Ungkap 3 Hal yang Perlu Dilakukan Orang Tua