Growthmates, membesarkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah merupakan harapan banyak orang tua. Namun, membentuk ketangguhan anak bukan berarti orang tua harus bersikap galak, sering menghukum, atau terus-menerus memarahi anak ketika melakukan kesalahan.

Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder Sekolah bnmontessori dan Co-Founder @goodenoughparents.id, Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi, menjelaskan bahwa anak membutuhkan pendampingan yang tepat agar mampu menghadapi tantangan, mengelola perasaan ketika mengalami kegagalan, dan berani mencoba kembali.

Menurut Pritta, ada tiga hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak mengembangkan ketangguhan atau resiliensi, yakni kemampuan untuk bangkit kembali ketika menghadapi kesulitan.

“Untuk anak-anak itu bisa menjadi tangguh dan resilient, mereka itu enggak butuh orang tua yang galak, suka menghukum, ngomel panjang lebar. Tapi, apa yang mereka butuhkan? Tiga hal ini,” papar Pritta, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @pritta_tyas, Rabu (21/10/2026).

Dikatakan Pritta, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan tantangan yang sesuai dengan kemampuan anak. Adapun, tantangan yang tepat dapat membantu anak mengembangkan keterampilan sekaligus belajar menghadapi kesulitan secara bertahap.

Pritta mengingatkan bahwa tantangan yang terlalu mudah bisa membuat anak cepat bosan dan tidak mengalami perkembangan keterampilan. Sebaliknya, tantangan yang terlalu sulit berisiko membuat anak frustrasi, merasa kewalahan, hingga enggan mencoba kembali.

Karena itu, orang tua perlu memahami kemampuan anak dan memberikan tantangan yang cukup menantang, tetapi masih memungkinkan untuk diselesaikan dengan usaha dan pendampingan.

“Kalau terlalu gampang, nanti anaknya jadi gampang bosan atau enggak naik skill-nya. Tapi kalau terlalu susah, anaknya takutnya frustrasi, overwhelmed, dan malah enggak mau coba lagi,” jelasnya.

Pritta menjelaskan, tantangan tersebut bisa diterapkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari belajar matematika, berolahraga, hingga mengembangkan bakat dan minat anak.

Orang tua juga tidak perlu selalu mengarahkan anak pada kompetisi. Proses belajar dan usaha untuk menguasai keterampilan tertentu pun dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melatih ketangguhannya.

Hal kedua, lanjut Pritta, adalah membantu anak menyusun rencana usaha yang konkret. Ketika anak memiliki keinginan untuk menguasai suatu keterampilan, orang tua dapat mendampinginya dengan menyusun langkah-langkah yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai contoh, jika anak ingin lebih mahir berenang, menguasai tarian tertentu, atau meningkatkan kemampuan dalam pelajaran sekolah, orang tua dapat mengajaknya merencanakan apa saja yang perlu dilakukan, berapa kali harus berlatih, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Dengan rencana yang konkret, anak dapat memahami bahwa kemampuan tidak selalu muncul secara instan, melainkan berkembang melalui latihan, usaha, dan proses yang berkelanjutan.

Baca Juga: Dokter Tirta: Orang Tua Harus Bertanggung Jawab jika Anak Melakukan Bullying

Pritta juga menekankan pentingnya mendampingi anak selama menjalani proses tersebut. Orang tua tidak cukup hanya memberikan target, tetapi perlu membantu anak mengevaluasi strategi yang sudah dilakukan dan mencari cara lain jika upaya sebelumnya belum memberikan hasil yang diharapkan.

“Bantu anak untuk membuat rencana, harus latihan apa saja, berapa kali, berapa lama, dan dampingi dalam setiap prosesnya. Jangan lupa juga ya, evaluasi strateginya bersama dengan anak,” tuturnya.

Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah membantu anak menghadapi perasaan tidak mampu atau merasa dirinya kurang baik ketika mengalami kegagalan.

Perasaan tersebut bisa muncul ketika anak kalah dalam kompetisi, tidak berhasil menyelesaikan tugas, atau belum mampu melakukan sesuatu sesuai harapannya. Dalam situasi seperti ini, anak mungkin merasa cemas, kecewa, atau meragukan kemampuannya sendiri.

Menurut Pritta, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa perasaan cemas dan merasa kurang mampu merupakan hal yang wajar. Alih-alih langsung mengkritik atau menuntut anak agar segera bangkit, orang tua dapat terlebih dahulu menerima perasaan yang sedang dialaminya.

“Pastikan ada rasa kayak, ‘Aku kurang deh,’ ada rasa cemas. Nah, itu yang bisa kita lakukan adalah bantu anak untuk, oke, cemas wajar, kamu merasa kurang baik wajar,” ungkap Pritta.

Setelah membantu anak menerima perasaannya, kata pritta, orang tua dapat mengajaknya mengingat kembali keberhasilan yang pernah diraih. Misalnya, keberanian yang pernah ditunjukkan, keterampilan yang sudah berhasil dikuasai, atau kemajuan yang dicapai setelah melewati proses latihan.

Menurutnya, mengingat pengalaman positif tersebut dapat membantu anak melihat bahwa satu kegagalan tidak serta-merta menghapus kemampuan dan keberhasilan yang telah dimilikinya.

Pritta menjelaskan, mengingat kembali pencapaian dan keberanian anak dapat menjadi bekal untuk membantunya bangkit serta kembali mencoba menghadapi tantangan berikutnya.

“Bantu anak mengingat keberhasilan-keberhasilan yang sudah pernah dia dapatkan sebelumnya. Keberaniannya dia, skill yang sudah berhasil dia kuasai, ini berguna untuk membuat anak bangkit lagi dan mau terus mencoba sesuatu yang ada di depan dia,” tandasnya.

Baca Juga: Anak Remaja Lebih Suka Curhat ke AI, Psikolog Ungkap 3 Hal yang Perlu Dilakukan Orang Tua