Cara masyarakat berbelanja diperkirakan akan berubah drastis dalam beberapa tahun ke depan. Jika selama ini kecerdasan buatan (AI) hanya dimanfaatkan untuk mencari informasi atau membandingkan produk, kini teknologi tersebut mulai dipercaya untuk mengambil keputusan pembelian hingga menyelesaikan transaksi atas nama konsumen.

Temuan tersebut terungkap dalam Consumer Pulse Survey 2026 yang dirilis Accenture, dikutip Jumat (17/07/2026). Hasil survei menunjukkan konsumen di kawasan Asia Pasifik jauh lebih siap mengadopsi konsep agentic commerce dibandingkan yang diperkirakan banyak pelaku usaha.

Baca Juga: Privy Bangun Digital Trust di Tengah Perkembangan Pesat Kecerdasan Buatan (AI)

Dalam konsep ini, agen AI tidak hanya berfungsi sebagai asisten digital, tetapi juga mampu bertindak mewakili konsumen. AI dapat mencari dan membandingkan produk, memilih opsi yang dinilai paling sesuai, melakukan pembelian, hingga mengatur pengiriman maupun proses pengembalian barang.

Survei Accenture menemukan lebih dari seperempat konsumen di Asia Pasifik kini menjadikan large language model (LLM) sebagai sarana utama untuk mencari informasi mengenai produk dan layanan. Bahkan, sembilan dari 10 responden berharap dapat berbelanja langsung melalui platform AI generatif.

Baca Juga: Dua Mata Pisau Artificial Intelligence dalam Pertumbuhan Ekonomi RI

Kepercayaan terhadap rekomendasi AI juga semakin tinggi. Sebanyak 80 persen responden mengaku kemungkinan akan mengikuti rekomendasi AI dalam menentukan hingga setengah dari keputusan pembelian mereka.

Tak hanya mencari harga termurah, konsumen juga menginginkan rekomendasi yang lebih personal. Sebanyak 68 persen responden berharap agen AI dapat membantu mereka berbelanja sesuai tujuan masing-masing, seperti menjaga pola hidup sehat, mengontrol pengeluaran, atau memilih produk yang lebih tepat dengan kebutuhan.

Perubahan perilaku tersebut dinilai akan mengubah cara perusahaan membangun loyalitas pelanggan. Jika sebelumnya keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi iklan, promosi, atau pengalaman pribadi, ke depan rekomendasi AI diperkirakan memiliki peran yang semakin besar.

Baca Juga: Ulang Tahun ke-15, Blibli Punya Resep Kebahagiaan agar Belanja Online Makin Happy

Survei itu mencatat 57 persen konsumen tetap ingin mengatur merek apa saja yang boleh dipertimbangkan oleh agen AI saat berbelanja. Namun, sekitar sepertiga responden mengaku tidak keberatan berpindah ke merek lain apabila AI menilai produk tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Menariknya, tingkat kepercayaan terhadap AI juga terbilang tinggi. Sebanyak 85 persen responden mengatakan lebih mempercayai rekomendasi agen AI dibandingkan saran dari teman ketika hendak membeli suatu produk.

Senior Managing Director sekaligus Lead AI & Data Asia Oceania Accenture, Vivek Luthra, menilai perubahan tersebut menuntut perusahaan untuk melakukan transformasi yang lebih luas daripada sekadar mengadopsi teknologi AI.

Menurutnya, perusahaan perlu menyelaraskan fungsi pemasaran, penjualan, layanan pelanggan, operasional, hingga teknologi agar mampu menghadirkan pengalaman belanja yang relevan ketika AI mulai menjadi perantara utama antara konsumen dan merek.

"Perusahaan juga perlu membangun kapabilitas, tata kelola, dan model operasional yang mampu mendukung penerapan AI dalam skala besar agar inovasi benar-benar dapat mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan," ujar Vivek.

Sementara itu, Managing Director dan Lead Southeast Asia Accenture Song, Patricio De Matteis, mengatakan loyalitas terhadap merek tidak lagi hanya ditentukan oleh persepsi konsumen. Ketika agen AI mulai mengambil peran dalam proses pembelian, perusahaan harus mampu membuktikan bahwa produk maupun layanannya benar-benar paling relevan dengan kebutuhan pelanggan.

Accenture menilai perusahaan perlu mulai memastikan seluruh informasi produknya mudah dipahami oleh sistem AI, mulai dari spesifikasi, harga, hingga klaim produk yang dapat diverifikasi. Langkah tersebut dinilai penting agar produk memiliki peluang lebih besar direkomendasikan oleh agen AI yang digunakan konsumen.

Di sisi lain, perusahaan yang telah menjadi pemimpin di kategorinya juga dinilai memiliki peluang mengembangkan agen AI khusus yang mampu memberikan rekomendasi lebih personal kepada pelanggan. Strategi ini diyakini dapat menjadi keunggulan baru dalam persaingan bisnis di era agentic commerce.

Untuk diketahui, Consumer Pulse Survey 2026 dilakukan terhadap 25.590 responden di 16 negara, termasuk lebih dari 7.000 responden di Australia, China, India, dan Jepang. Penelitian tersebut membandingkan perilaku konsumen berdasarkan usia, tingkat pendapatan, penggunaan teknologi, preferensi merek, serta mencakup 17 sektor industri.