Penunjukan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menuai sorotan dari sejumlah pengamat. Mantan Wakil Menteri Pertanian yang juga dikenal sebagai orang dekat Presiden Prabowo Subianto itu dinilai dipilih bukan karena latar belakang di bidang gizi, melainkan karena kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan.
Sudaryono resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/7/2026), menggantikan Nanik S. Deyang yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Sebelum menduduki jabatan tersebut, Sudaryono diketahui memiliki rekam jejak panjang bersama Prabowo, mulai dari menjadi asisten pribadi pada 2010 hingga menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra.
Ahli Kebijakan dan Kesehatan Pangan dari MBG Watch, Isnawati Hidayah, menilai penunjukan Sudaryono menimbulkan pertanyaan terkait prinsip meritokrasi di tubuh Badan Gizi Nasional.
"Dia itu politikus, pengusaha, dan dari Partai Gerindra. Dia dipilih bukan berdasarkan meritokrasi, bukan karena capable, tapi karena kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan," ujar Isnawati, dikutip dari BBC Indonesia pada Kamis (23/07/2026).
Baca Juga: Resmi Gantikan Nanik, Gerindra Pede Sudaryono Mampu Benahi BGN
Menurut Isnawati, posisi Kepala BGN seharusnya diisi figur yang memiliki kompetensi kuat di bidang pemenuhan gizi dan kesehatan masyarakat. Terlebih, lembaga tersebut mengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
Senada, Direktur Riset Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Askar Wahyudi, menilai penunjukan Sudaryono sulit dilepaskan dari dinamika politik. Ia mempertanyakan kesesuaian latar belakang Sudaryono dengan kebutuhan lembaga yang fokus pada pemenuhan gizi nasional.
"Kalau dilihat dari kacamata tata kelola kelembagaan, penunjukan ini memang mengundang pertanyaan. Sebab, yang dibutuhkan adalah kapasitas dalam bidang yang relevan dengan tugas BGN," ujarnya.
Baca Juga: Sudaryono Siap Bantu Kejagung Bongkar Skandal Korupsi MBG, Langsung Beri Pesan Ini Buat Dadan Cs
Meski demikian, pemerintah memiliki pandangan berbeda. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Sudaryono dipilih karena telah mengikuti pembahasan program MBG sejak masih menjadi gagasan kampanye Presiden Prabowo.
Menurut Prasetyo, selama menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono terlibat dalam pembahasan rantai pasok bahan pangan yang menjadi tulang punggung pelaksanaan MBG.
"Badan Gizi Nasional tidak pernah lepas dari dukungan sektor pertanian. Beliau mengikuti, berdiskusi, menggagas, dan mengonsep pelaksanaan teknis MBG sejak awal," kata Prasetyo.
Menanggapi berbagai kritik tersebut, Sudaryono menegaskan dirinya akan fokus membenahi tata kelola BGN. Ia berjanji meningkatkan transparansi dan memastikan setiap anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Yang tidak transparan dibuat transparan. Yang manual dibuat digital dan ada rekam jejaknya. Yang sembunyi-sembunyi tidak boleh terjadi," tegas Sudaryono usai pelantikan.
Baca Juga: Ditelepon Teddy Jelang Pelantikan, Sudaryono: Saya Sudah Ikut Urus MBG Sejak Masa Kampanye
Sudaryono juga membantah memiliki keterkaitan dengan dapur Makan Bergizi Gratis atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia memastikan dirinya maupun keluarganya tidak memiliki kepentingan dalam operasional program tersebut.
"Enggak ada. Saya tidak punya SPPG, saya tidak punya dapur, dan tidak ada keluarga saya yang punya dapur MBG," katanya.
Di tengah pro dan kontra yang mengiringi penunjukannya, Sudaryono kini menghadapi tantangan besar untuk membuktikan kapasitasnya. Selain memastikan program MBG berjalan efektif, ia juga dituntut menjawab berbagai kritik terkait transparansi, tata kelola, dan independensi Badan Gizi Nasional.