Growthmates, menjelang Lebaran, tekanan pengeluaran rumah tangga biasanya semakin terasa. Berbagai kebutuhan datang hampir bersamaan, kebutuhan harian tetap berjalan, sementara pengeluaran musiman seperti persiapan Hari Raya, agenda buka bersama, pemberian hampers, hingga biaya mudik mulai menumpuk.

Situasi ini membuat banyak keluarga harus mengatur arus kas dengan lebih cermat agar kondisi finansial tetap stabil.

Survei media sosial yang dilakukan oleh Amar Bank terhadap lebih dari 1.600 responden di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Makassar menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Responden yang berusia 20–55 tahun tersebut mengakui bahwa Ramadan membawa perubahan signifikan pada pola pengeluaran mereka.

Sebanyak 87% responden menyatakan pengeluaran meningkat selama Ramadan, sementara hanya 16,9% yang merasa kondisi keuangannya tetap nyaman sepanjang bulan tersebut.

Menariknya, peningkatan pengeluaran ini bukan terutama dipicu oleh belanja simbolik seperti pakaian atau hadiah Lebaran. Pos pengeluaran terbesar justru berasal dari kebutuhan rumah tangga, yang disebut oleh 86% responden.

Setelah itu, 67,6% responden menyebut kebutuhan seperti baju Lebaran, buka bersama, dan hampers, sementara 26,4% menyebut biaya tiket mudik sebagai pengeluaran tambahan.

Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan finansial selama Ramadan lebih banyak berasal dari akumulasi kebutuhan rutin dan semi-rutin yang muncul dalam periode singkat, bukan semata-mata dari konsumsi gaya hidup.

Perbedaan strategi pengelolaan keuangan mulai terlihat ketika responden dilihat berdasarkan generasi.

Kelompok Gen Z cenderung mengambil pendekatan yang lebih defensif. Saat menghadapi pengeluaran tak terduga, 46% responden Gen Z memilih menggunakan dana darurat, sementara 38,3% mengombinasikannya dengan pinjaman.

Tekanan finansial juga terasa semakin kuat mendekati akhir Ramadan. Dari 765 responden Gen Z, sekitar 42% mengaku kondisi keuangan mereka semakin ketat di penghujung bulan.

Pola ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z, menjaga stabilitas dan bertahan sampai periode paling berat terlewati menjadi prioritas utama dalam mengelola keuangan selama Ramadan.

Sementara itu, kelompok Milenial terlihat lebih taktis dalam membangun bantalan keuangan.

Sebanyak 42% responden Milenial memilih menggabungkan dana darurat dan pinjaman, lebih tinggi dibanding 38,8% yang hanya mengandalkan dana darurat.

Kelompok ini juga lebih sering menggambarkan kondisi keuangan mereka sebagai naik-turun dari minggu ke minggu. Dari 461 responden Milenial, sekitar 36% mengaku mengalami arus kas yang tidak menentu.

Artinya, Milenial cenderung lebih siap menggunakan kombinasi strategi keuangan agar kebutuhan tetap berjalan tanpa harus menunggu kondisi keuangan sepenuhnya aman.

Baca Juga: 4 Tips Menginvestasikan THR dengan Emas!