Survei tersebut juga memperlihatkan satu insight penting: pembiayaan selama Ramadan lebih sering digunakan sebagai alat menjaga stabilitas keuangan, bukan untuk mendorong konsumsi berlebihan.

Secara keseluruhan, sekitar 50,4% responden menggunakan pinjaman, baik sepenuhnya maupun dikombinasikan dengan dana darurat, untuk menghadapi pengeluaran tak terduga.

Alasan penggunaan pinjaman selama Ramadan pun cenderung bersifat fungsional. Sebanyak 33,6% responden menyatakan mereka memanfaatkan pinjaman sebagai solusi sementara sambil menunggu THR atau gaji cair.

Sementara itu, 29% responden menggunakannya untuk menutup kebutuhan yang belum tertangani oleh gaji bulanan. Hanya sebagian kecil, yakni 15,3%, yang mengaku terdorong menggunakan pinjaman karena keinginan untuk berbelanja lebih banyak dari rencana awal.

Dalam konteks Ramadan, Tunjangan Hari Raya (THR) pun ternyata memiliki makna lebih dari sekadar tambahan pendapatan.

Sebanyak 72,8% responden mengatakan THR memengaruhi atau setidaknya menjadi cadangan psikologis dalam keputusan mengambil pinjaman.

Mayoritas responden juga melihat THR sebagai dana yang ditujukan terutama untuk kebutuhan keluarga dan keagamaan (65,8%), bukan semata uang tambahan untuk gaya hidup.

Dengan kata lain, THR berfungsi sebagai jangkar psikologis atau memberikan rasa aman karena ada arus kas yang sudah terlihat akan masuk.

Meski Ramadan dan Lebaran identik dengan kebahagiaan, dampak finansialnya tidak selalu langsung selesai setelah perayaan berakhir.

Sebanyak 46,5% responden mengatakan kondisi keuangan mereka kembali normal setelah Ramadan, namun 37,7% lainnya mengaku masih harus mengencangkan ikat pinggang lebih lama.

Temuan ini menunjukkan bahwa bagi banyak rumah tangga, fase pemulihan setelah Ramadan juga menjadi periode penting dalam pengelolaan keuangan.

Melihat dinamika tersebut, Amar Bank memposisikan diri tidak hanya sebagai penyedia akses pembiayaan, tetapi juga sebagai mitra yang memahami ritme kebutuhan nasabah.

Direktur Retail Banking Amar Bank, Abraham Lumban Batu, menjelaskan bahwa masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar akses dana.

“Ramadan sering kali menjadi periode ketika kebutuhan rumah tangga meningkat dalam waktu yang singkat, sementara arus kas belum tentu bergerak dengan ritme yang sama. Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya akses dana, tetapi juga pendampingan agar mereka bisa tetap memprioritaskan kebutuhan utama, memahami kapasitas keuangan mereka, dan mengambil keputusan pembiayaan secara bertanggung jawab,” tutur Abraham, dikutip Selasa (17/4/2026).

Ia pun menambahkan bahwa peran lembaga keuangan adalah memastikan pembiayaan tetap berfungsi untuk menjaga keseimbangan keuangan masyarakat.

“Bagi kami, peran bank adalah membantu menjaga kelancaran, bukan menambah beban,” tambahnya.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Bicara soal Pencairan THR ASN