Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, penggunaan gadget pada anak menjadi tantangan yang kian kompleks bagi orang tua. Upaya membatasi screen time memang semakin gencar dilakukan, namun di balik itu muncul dilema baru, yakni ketika akses gadget dikurangi, aktivitas apa yang mampu menggantikannya?
Fenomena ini mengemuka dalam diskusi media dan komunitas bertajuk “Betadine Bening Ajak Media dan Komunitas Dukung Eksplorasi Anak Lewat Semangat Gen Bening”. Forum tersebut menyoroti pentingnya eksplorasi anak sebagai bagian dari tumbuh kembang, sekaligus menegaskan bahwa pembatasan screen time saja tidak cukup tanpa solusi konkret.

Pembatasan Screen Time dan Tantangan di Lapangan
Bagi banyak orang tua, gadget kerap menjadi solusi instan untuk menenangkan anak. Namun, kemudahan ini sering kali disertai rasa bersalah, terutama ketika anak mulai menunjukkan ketergantungan terhadap layar.
Situasi menjadi semakin rumit saat pembatasan screen time justru memicu konflik. Tidak sedikit anak yang mengalami tantrum atau menunjukkan penolakan ketika akses gadget dihentikan. Kondisi ini membuat orang tua berada dalam posisi serba salah antara membatasi dan menghindari konflik.
Baca Juga: Screen Time Dibatasi, Apa yang Harus Dilakukan Anak? Ini Penjelasan Ahli
Pembatasan Saja Tidak Cukup
Brand Manager Wound Care iNova Pharmaceuticals Indonesia, Anastasya Ratu Chaerani, menegaskan bahwa pembatasan screen time memang penting, tetapi bukan satu-satunya solusi.
“Pembatasan screen time itu penting, tapi tidak cukup. Orang tua tetap harus memberikan alternatif aktivitas agar anak bisa tetap bereksplorasi dan berkembang,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa aktivitas pengganti, anak berpotensi kehilangan stimulasi yang selama ini mereka dapatkan dari gadget.
Baca Juga: Kurangi Screen Time Tanpa Drama: 5 Cara Tetap Waras Tanpa Harus 'Puasa Gadget'
Pentingnya Eksplorasi Nyata bagi Anak
Anastasya menjelaskan, anak sejatinya belajar dari pengalaman langsung, bukan semata dari layar digital.
“Anak-anak belajar dari pengalaman nyata sehari-hari, bukan hanya dari apa yang mereka lihat di layar. Karena itu, eksplorasi seperti bermain dan bergerak menjadi sangat penting,” katanya.
Aktivitas fisik seperti berlari, memanjat, dan bermain di luar ruangan dinilai mampu memberikan stimulasi sensorik dan motorik yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh gadget. Namun, di sisi lain, kekhawatiran orang tua terhadap risiko cedera masih menjadi tantangan tersendiri.
Eksplorasi sebagai Bagian dari Proses Belajar
Dokter spesialis anak, dr. Lucky Yogasatria, Sp.A, menekankan bahwa eksplorasi merupakan bagian penting dalam proses belajar anak.
“Eksplorasi adalah bagian dari proses belajar anak. Kalau anak tidak diberi kesempatan mencoba, dia tidak akan tahu dan tidak akan berkembang,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengalaman langsung memberikan stimulasi yang lebih lengkap dibandingkan paparan dari layar semata.
“Anak itu belajar dari apa yang dia lihat dan lakukan. Kalau hanya dari layar, stimulasi yang didapat tidak lengkap dibandingkan pengalaman langsung,” lanjutnya.
Perlu Perubahan Pola Asuh di Era Digital
Menjawab tantangan tersebut, Anastasya menyoroti pentingnya perubahan pola asuh atau parenting shift. Menurutnya, orang tua perlu beralih dari pendekatan yang semata-mata protektif menjadi lebih suportif terhadap eksplorasi anak.
“Kita ingin mendorong perubahan pola asuh, dari yang hanya fokus melindungi menjadi bagaimana orang tua juga berani mendukung eksplorasi anak,” ungkapnya.
Dengan demikian, peran orang tua tidak hanya sebatas melindungi, tetapi juga mendampingi anak dalam proses belajar melalui pengalaman langsung.
Dampak Gadget terhadap Kebiasaan Anak
Selain memengaruhi perilaku, penggunaan gadget juga berdampak pada kebiasaan sehari-hari, termasuk pola makan. dr. Lucky menyoroti kebiasaan makan sambil menonton sebagai hal yang perlu diwaspadai.
“Anak yang makan sambil nonton itu sebenarnya bukan belajar makan, tapi hanya terdistraksi. Ini bisa berdampak pada pola makan dan perkembangan perilaku anak,” katanya.
Ia menambahkan bahwa anak usia dini pada dasarnya membutuhkan aktivitas fisik yang cukup.
“Anak usia dua tahun itu memang harus aktif. Justru kalau terlalu diam, itu yang perlu diwaspadai,” tambahnya.
Di era digital, persoalannya bukan lagi sekadar “boleh atau tidak” anak bermain gadget, melainkan bagaimana orang tua mengelola keseimbangan antara layar dan kehidupan nyata. Tanpa alternatif yang menarik, pembatasan hanya akan menjadi larangan tanpa solusi.
Di sinilah tantangan sebenarnya, orang tua harus berani memberi ruang bagi anak untuk mencoba, jatuh, kotor, dan belajar dari pengalaman langsung.