Materi Primaya Endocrine 2026 mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme. Kondisi tersebut membuat risiko komplikasi dapat berkembang sebelum seseorang mendapatkan diagnosis dan pengobatan.

Di Indonesia, berdasarkan IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia berada di peringkat kelima dunia dalam prevalensi diabetes pada kelompok usia 20–79 tahun dan menempati peringkat ketiga dalam jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis. Angka tersebut menunjukkan bahwa kesadaran untuk melakukan deteksi dini menjadi semakin penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.

dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang berpraktik di Primaya Hospital Bekasi Barat, menjelaskan bahwa diabetes seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan kadar gula darah.

“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh. Kita perlu bergeser dari pendekatan yang reaktif menjadi lebih proaktif, termasuk menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak lebih awal,” jelasnya.

Diabetes tipe 2 sendiri merupakan kondisi kompleks yang melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, mulai dari pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, hingga sistem imun. Karena itu, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak semata-mata ditentukan oleh satu angka hasil pemeriksaan laboratorium.

Pendekatan terhadap diabetes kini semakin diarahkan pada upaya yang lebih proaktif dan menyeluruh. Penanganan tidak hanya berfokus pada pengendalian gula darah, tetapi juga mempertimbangkan perlindungan organ, pengelolaan berat badan, risiko komplikasi, kondisi jantung dan ginjal, penyakit penyerta, hingga kebutuhan serta preferensi masing-masing pasien.

Baca Juga: Tak Perlu Berobat ke Luar Negeri, Primaya Hospital Hadirkan Teknologi MitraClip untuk Pasien Jantung Berisiko Tinggi