Investor legendaris Warren Buffett kembali menjadi sorotan. Di usia 95 tahun, Chairman Berkshire Hathaway itu tak hanya berencana melepas seluruh kepemilikan sahamnya senilai US$140 miliar atau sekitar Rp2.500 triliun sebelum 2034, tetapi juga kembali mengingatkan publik pada pengakuannya yang pernah menghebohkan, yakni ia membayar pajak lebih rendah dibandingkan sekretaris pribadinya.
Buffett baru-baru ini mendonasikan 12 juta saham Kelas B Berkshire Hathaway kepada empat yayasan yang dipimpin oleh ketiga anaknya, yakni Susie, Howard, dan Peter Buffett. Langkah ini menjadi bagian dari rencananya untuk mengalihkan hampir seluruh kekayaannya kepada kegiatan filantropi.
Baca Juga: Warren Buffett Ungkap Investasi Terbaiknya Sepanjang Masa, Ternyata Bukan Saham!
"Saya memberi tahu ketiga anak saya bahwa ini milik mereka, dan merupakan tanggung jawab mereka untuk menyelesaikannya dengan baik," ujar Buffett dalam wawancara dengan CNBC yang dikutip Selasa (28/07/2026).
Di balik aksi filantropi tersebut, Buffett juga sempat menjadi pusat perhatian karena pandangannya mengenai sistem perpajakan di Amerika Serikat. Pada 2011, ia mengungkapkan bahwa tarif pajak yang dibayarkannya justru lebih rendah dibandingkan yang dibayar sekretaris pribadinya.
Menurut Buffett, hal itu terjadi karena sebagian besar penghasilannya berasal dari keuntungan investasi yang dikenakan tarif pajak lebih rendah dibandingkan pendapatan dari gaji. Sementara para pekerja, termasuk sekretarisnya, masih dibebani pajak penghasilan dan pajak penggajian (payroll tax) yang lebih besar secara proporsional.
Baca Juga: Oh... Ternyata Ini Alasan Warren Buffett Coret Yayasan Bill Gates dari Daftar Donasi
Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas di Amerika Serikat dan bahkan melahirkan usulan kebijakan yang dikenal sebagai "Buffett Rule". Aturan itu mengusulkan penerapan tarif pajak minimum sebesar 30 persen bagi warga Amerika Serikat yang memiliki penghasilan lebih dari US$1 juta per tahun.
Namun, usulan yang didukung pemerintahan Presiden Barack Obama tersebut akhirnya ditolak Senat AS pada 2012.
Menariknya, Buffett tidak pernah menolak untuk membayar pajak lebih besar. Ia justru berkali-kali menegaskan bahwa dirinya merasa "kurang dikenakan pajak" dibandingkan manfaat yang diterimanya selama hidup dan berbisnis di Amerika Serikat.
"Saya merasa sangat diuntungkan oleh negara ini," ungkap Buffett dalam sejumlah kesempatan.
Baca Juga: Warren Buffett Peringatkan Pasar Saham Makin Mirip Perjudian, Investor Diminta Waspada
Meski demikian, Buffett tetap dikenal dengan selera humornya. Dalam sebuah pernyataan pada 1998, ia pernah berkelakar, "Saya tidak mengirimkan pembayaran sukarela apa pun ke IRS, saya ingin Anda memahaminya."
Rencana Buffett untuk melepas seluruh hartanya senilai Rp2.500 triliun juga sempat menuai kritik. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah donasi melalui yayasan keluarga dapat memberikan keuntungan dari sisi pajak warisan dan pajak keuntungan modal.
Namun, Buffett membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa fokus utamanya adalah memastikan kekayaannya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat setelah dirinya tiada.
Dengan waktu kurang dari satu dekade menuju 2034, Warren Buffett tampaknya ingin meninggalkan warisan yang lebih dari sekadar angka fantastis. Ia ingin dikenang sebagai sosok yang tidak hanya membangun kekayaan, tetapi juga berupaya mengubah cara dunia memandang tanggung jawab sosial dan keadilan pajak.