Growthmates, di era digital seperti sekarang, sulit rasanya lepas dari layar ponsel, laptop, atau tablet. Mulai dari bekerja, belajar, hingga mencari hiburan, banyak orang menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan perangkat elektronik tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan.

Selama ini, penggunaan gawai lebih sering dikaitkan dengan mata lelah, gangguan tidur, atau nyeri leher. Namun, muncul pertanyaan lain yang tak kalah menarik, apakah kebiasaan menatap layar dalam waktu lama juga dapat memengaruhi kondisi kulit?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa cahaya biru dan kebiasaan penggunaan perangkat digital memang dapat memicu berbagai perubahan pada kulit, mulai dari stres oksidatif, hiperpigmentasi, hingga tanda-tanda penuaan dini. Meski demikian, para ahli menilai dampaknya tidak sesederhana yang sering dibayangkan.

Lantas, bagaimana sebenarnya pengaruh layar digital terhadap kesehatan kulit? Dikutip dari Times of India, Senin (3/8/2026), berikut penjelasannya.

Cahaya Biru Berpotensi Mempercepat Kerusakan Kolagen

Perangkat digital memancarkan High Energy Visible (HEV) Light atau cahaya biru dengan panjang gelombang sekitar 380–500 nanometer.

Cahaya ini mampu menembus lebih dalam dibandingkan sinar UV yang umumnya hanya memengaruhi lapisan permukaan kulit.

Saat menembus jaringan kulit, cahaya biru dapat memicu terbentuknya Reactive Oxygen Species (ROS) atau radikal bebas. Kondisi ini menimbulkan stres oksidatif yang mengaktifkan enzim pemecah kolagen dan elastin, sekaligus menghambat pembentukan kolagen baru.

Akibatnya, kulit berisiko mengalami tanda-tanda penuaan dini seperti garis halus, kerutan, hingga berkurangnya elastisitas.

Memicu Produksi Melanin Berlebih

Bagi orang yang memiliki masalah hiperpigmentasi atau melasma, cahaya biru dapat menjadi salah satu pemicunya.

Paparan cahaya tampak diketahui mengaktifkan reseptor opsin-3 pada sel penghasil pigmen kulit. Aktivasi ini mendorong produksi melanin meski tanpa paparan sinar ultraviolet.

Efek tersebut lebih sering ditemukan pada individu dengan warna kulit yang lebih gelap atau tipe kulit Fitzpatrick III hingga VI. Sementara itu, dampaknya cenderung lebih kecil pada kulit yang sangat terang.

Mengganggu Siklus Tidur yang Berpengaruh pada Regenerasi Kulit

Paparan cahaya biru di malam hari tidak hanya memengaruhi kulit secara langsung, tetapi juga mengganggu ritme sirkadian tubuh.

Cahaya biru dapat menekan produksi hormon melatonin yang berperan penting dalam mengatur kualitas tidur. Padahal, saat tidur malam, kulit melakukan proses regenerasi dan perbaikan alami.

Ketika kualitas tidur menurun, proses pemulihan kulit menjadi kurang optimal. Dampaknya, kulit lebih mudah tampak kusam, kering, lelah, dan tanda-tanda penuaan dapat muncul lebih cepat.

Kebiasaan Menunduk Memicu Kerutan di Leher

Bukan hanya cahaya layar yang perlu diperhatikan, tetapi juga posisi tubuh saat menggunakan ponsel.

Kebiasaan menundukkan kepala dalam waktu lama memberikan tekanan terus-menerus pada kulit leher yang secara alami lebih tipis dan memiliki lebih sedikit kelenjar minyak dibandingkan kulit wajah.

Menurut Dr. Chetna Chhabra, Pimpinan Klinis di Clinikally, leher menjadi salah satu area yang paling cepat menunjukkan tanda penuaan.

"Leher sering kali menjadi area pertama yang menunjukkan penuaan dini karena dermisnya hingga 45% lebih tipis dibanding kulit wajah dan memiliki lebih sedikit kelenjar sebasea untuk menjaga kelembapan. Memiringkan kepala ke depan pada sudut 45 hingga 60 derajat dapat meningkatkan beban gravitasi pada otot dan kulit leher hingga sekitar 50–60 pon,” paparnya.

Ia pun menyarankan agar perangkat dipegang sejajar dengan mata serta rutinitas perawatan kulit, termasuk tabir surya dan pelembap, juga diaplikasikan hingga area leher dan tulang selangka.

Baca Juga: Dampak Scroll Ponsel Sebelum Tidur terhadap Kesehatan Kulit dan Tubuh