Selama ini banyak orang menganggap paparan sinar matahari pada pagi atau sore hari lebih aman dibandingkan saat siang. Namun, penelitian terbaru menunjukkan anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Paparan sinar matahari pada waktu-waktu tersebut tetap berpotensi menimbulkan kerusakan kulit apabila terjadi secara terus-menerus.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari QIMR Berghofer menemukan bahwa risiko kerusakan kulit tidak hanya ditentukan oleh tingginya intensitas sinar matahari, tetapi juga oleh total akumulasi paparan radiasi ultraviolet (UV) yang diterima kulit.

Hasil penelitian tersebut menantang pandangan yang selama ini berkembang bahwa sinar matahari pagi atau sore relatif aman karena memiliki intensitas UV yang lebih rendah. Faktanya, paparan dengan intensitas rendah yang berlangsung lebih lama tetap dapat memberikan dosis radiasi UV yang setara dengan paparan singkat pada siang hari.

Baca Juga: Sunscreen Mist Baru dari Wardah Diklaim Tak Bikin Makeup Luntur, Ini Keunggulannya

Profesor Rachel Neale menjelaskan bahwa total dosis radiasi ultraviolet merupakan faktor utama yang menentukan tingkat kerusakan kulit, bukan semata-mata waktu seseorang berada di bawah sinar matahari.

"Anda bisa mendapatkan dosis radiasi UV yang sama dalam waktu singkat pada tengah hari atau dalam waktu yang lebih lama pada awal atau akhir hari. Penelitian kami menunjukkan bahwa total dosislah yang penting, tidak masalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkannya," ujar Neale, seperti dikutip Olenka pada Jumat (03/07/2026).

Menurutnya, intensitas sinar matahari yang lebih rendah pada pagi atau sore hari dapat membuat banyak orang merasa lebih aman sehingga menghabiskan waktu lebih lama di luar ruangan tanpa perlindungan yang memadai. Padahal, paparan yang terjadi secara berulang dapat menimbulkan efek kumulatif pada kulit.

Baca Juga: Ini Sunscreen Ringan untuk Rutinitas Sehari-hari di Iklim Tropis

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Photochemistry and Photobiology, tim peneliti melakukan biopsi kulit dan menemukan adanya kerusakan DNA serta respons stres pada sel, baik akibat paparan UV dengan intensitas tinggi maupun rendah.

Penelitian tersebut juga mengukur sejumlah penanda biologis, termasuk protein p53 yang berkaitan dengan kerusakan DNA. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan biologis pada kulit sudah dapat terjadi bahkan sebelum muncul tanda-tanda seperti kemerahan akibat paparan sinar matahari.

Sementara itu, Profesor David Whiteman mengatakan paparan radiasi UV dalam dosis rendah yang terjadi berulang kali berpotensi meningkatkan risiko mutasi sel yang dapat berkembang menjadi kanker kulit.

Baca Juga: Masih Perlukah Pakai Sunscreen Saat Musim Hujan?

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa sinar matahari tetap memiliki manfaat bagi tubuh, terutama sebagai sumber alami vitamin D yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang dan sistem imun.

Oleh karena itu, masyarakat tetap dianjurkan memperoleh paparan sinar matahari secukupnya, sembari menerapkan langkah-langkah perlindungan kulit seperti menggunakan tabir surya, mengenakan pakaian pelindung dan topi, atau mencari tempat teduh saat beraktivitas di luar ruangan.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan kulit tidak hanya perlu dilakukan ketika matahari sedang terik. Perlindungan dari paparan sinar ultraviolet tetap penting diterapkan, baik pada pagi, siang, maupun sore hari, karena yang paling menentukan risiko kerusakan kulit adalah akumulasi dosis radiasi UV yang diterima tubuh dari waktu ke waktu.