Di sisi lain, Pemerintah Amerika Serikat menuding Maduro terlibat dalam jaringan pengedar narkoba, ia juga dituding memiliki dan menggunakan berbagai senjata mesin yang mengancam Amerika Serikat dan banyak negara lain. Alasan ini pula menjadi landasan pemerintahan Donald Trump menyerang Venezuela dan menculik Maduro pada akhir pekan lalu.
Sebagaimana diketahui bersama, hubungan Maduro dan Donald Trump memang sudah lama dalam kondisi panas dingin. Trump secara terbuka menuding Maduro terlibat dalam jaringan penyelundupan narkoba dan menyebutnya sebagai kriminal internasional.
Pada tahun 2020, saat masa jabatan pertama Trump, Maduro didakwa di Distrik Selatan New York atas tuduhan narkoterorisme. Ia dituduh terlibat dalam konspirasi impor kokain ke Amerika Serikat serta sejumlah dakwaan pidana lainnya.
Pemerintah AS bahkan sempat menawarkan hadiah sebesar 15 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat membantu penangkapannya.
Ketegangan kembali meningkat pada November 2025 ketika Pemerintah AS menetapkan Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing.
Kartel tersebut dituding dijalankan langsung oleh Nicolas Maduro. Menurut pernyataan pejabat AS, penetapan ini didasarkan pada bukti hukum yang diajukan ke dewan juri federal.
Pada Agustus 2025, hadiah penangkapan Maduro dinaikkan menjadi US$ 50 juta. Pemerintah AS di bawah Trump menuding Maduro sebagai pemimpin organisasi kriminal yang terlibat terorisme, penyelundupan narkoba, dan kejahatan lintas negara.